Berbicara
mengenai tradisi yang ada di Indonesia tidak akan pernah ada habisnya.
Indonesia merupakan negara multikultural. Negara yang kaya akan sumber daya,
budaya, tradisi, pakaian adat, rumah adat, bahkan sampai ke lagu daerah. Salah
satu dari sekian banyak budaya dan tradisi yang ada di Indonesia terdapat di
provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Provinsi D.I.Y tidak hanya terkenal
sebutannya sebagai kota pelajar, tetapi juga dengan budaya dan tradisi yang
masih sangat kental. Provinsi yang dipimpin oleh Gubernur yang biasa disebut
dengan Sultan.
Tradisi
Hajad Kawula Dalem merupakan tradisi
sekaligus budaya yang masih dipegang erat keberadaannya di Kota Yogyakarta. Hajad Kawula Dhalem biasanya diperingati
pada bulan Suro dalam kalender Jawa, tepatnya
pada tanggal awal bulan Suro yaitu
tanggal 1 Suro. Tradisi Hajad Kawula Dalem biasanya dilakukan di
alun-alun Utara, kemudian dilanjutkan dengan berjalan menuju Benteng Van De
Burg kemudian mengelilngi benteng tersebut, masyarakat Kota Yogya biasa
menyebutnya dengan Ritual Mubeng Benteng.
“Acara
Hajad Kawula Dalem ini memang sudah
terlaksana sejak dahulu Mbak, sudah menjadi tradisi dan rutin setiap awal bulan
Suro tanggal 1, acaranya dimulai
dengan ritual terlebih dahulu yang dilakukan di dalam keraton oleh Sultan dan
para Abdi Dhalem, kemudian pemasangan Pathok di tengah alun-alun sebagai
penanda untuk diadakannya Sekaten.”
Tutur Ibu Kanut Sutanto . “Namun, untuk dua tahun berturut-turut ini tradisi Hajad Kawula Dalem tidak terlaksana
mbak, baru dimulai tahun ini, biasanya rutin, nggak tahu karena apa.” Lanjut
penuturan wanita 68 tahun itu.
Menurut
pendapat Bapak Wachid Eko Purwanto salah satu dosen sastra Universitas Ahmad
Dahlan, menurut Sejarah tradisi mubeng beteng paling tidak memiliki dua sudut
pandang. Sudut pandang pertama, bermula sebagai bagian dari tradisi Jawa yang
berkembang pada abad ke-6 sebelum munculnya kerajaan Mataram-Hindu. Dalam
tradisi Jawa dikenal dengan istilah muser atau munjer. Dua kata ini memiliki
arti aktivitas mengelilingi pusat. Pada zaman dulu, pusatnya adalah pusat desa.
Manakala sebuah wilayah berkembang menjadi keraton, muser atau munjer ini
diteruskan menjadi menjadi tradisi kraton. Kawula Dalem beraktivitas
mengelilingi pusat keraton. Adapun sudut pandang kedua menyebutkan bahwa
sejarah Mubeng Beteng merupakan tradisi
Jawa-Islam. Tradisi ini dimulai pada masa kerajaan Mataram Islam yang awalnya
berdiri di Kotagede, Yogyakarta. Keraton Mataram Islam ini selesai dibangun
pada tanggal 1 Suro 1580. Pada saat itulah tradisi mubeng beteng dimulai. Para
prajurit keraton berjaga dari serangan musuh – waktu itu dari kerajaan Pajang –
dengan cara mengelilingi benteng kraton.
Selanjutnya pada masa damai, tugas keliling beteng dialihkan kepada para abdi
dalem keraton. Para abdi dalem keraton ini keliling beteng sambil berdzikir dan
berdoa untuk keselamatan dan kejayaan keraton.
“Relasi
mubeng beteng dengan zaman sekarang tentu tidak jauh dari sejarahnya. Sebagai
bagian dari ikhtiar menjaga keamanan dan keselamatan serta refleksi diri.
Mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir dan berdoa. Maka tapa bisu yang
menyertai tradisi mubeng beteng lebih bersifat spiritual dari pada hanya sekedar
pelarangan tidak boleh berbicara. Tentu tradisi ini masih relevan dilakukan
pada masa sekarang, dan makna yang dapat ditafsirkan dari Mubeng Benteng
sebagai bentuk perenungan. Orang Jawa menyebut sebagai tirakat. Tirakat berasal
dari bahasa Arab tariqah yang berarti jalan. Dalam bahasa Jawa sering disebut
dengan lelaku. Tariqah dan lelaku ini bermuara
pada pepatah Jawa yang berbunyi ilmu iku kalakone kanthi laku. Yang
terjemahan bebasnya dapat diartikan ilmu itu tercapai karena dilaksanakan. Maka
laku mubeng beteng ini dapat dimaknai sebagai bagian dari laku untuk
mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kebaikan pada Tuhan.” Tutur dosen
yang gemar meneliti naskah-naskah kuno tersebut.
Tradisi
Hajad Kawula Dalem di Kota
Yogyakarta tidak hanya diikuti oleh warga asli Kota Yogyakarta saja, melainkan
siapapun bebas mengikuti acara tersebut tidak terkecuali wisatawan lokal maupun
mancanegara yang sedang berkunjung di Kota Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya
seluruh orang yang terlibat di tradisi Hajad
Kawula Dalem tidak boleh bersuara atau yang biasa disebut dengan Tapa Bisu.
“Tradisi
Hajad Kawula Dalem ini unik ya mbak,
apalagi Jogja kota yang terkenal dengan berbagai macam tradisi. Saya dari
sengaja dari Banjarnegara langsung ke sini untuk menyaksikan acara Hajad Kawula
Dalem, datang bersama anak dan suami.” Jawab wisatawan asal Banjarnegara.
Pelaksanaan
tradisi Hajad Kawula Dalem pemerintah
Koya Yogyakarta banyak melibatkan berbagai pihak, termasuk untuk keamanan
jalannya acara. Pihak keamanan yang terlibat dalam tradisi Hajad Kawula Dalem seperti Polisi Kota Yogyakarta sebagai pihak
keamanan primer dan orang-orang Abdi
Dhalem yang dipercaya untuk ikut mengamankan jalannya acara tersebut.
“Sejauh
kami ikut serta dalam pengamanan tradisi Hajad
Kawula Dalem tidak ada kendala yang berarti mbak, semua aman-aman saja
berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Semua yang terlibat selalu menjaga
ketertiban selama tradisi berlangsung, kami dari pihak kepolisian menerjunkan
sekitar 200 personil untuk pengamanan acara Hajad
Kawula Dalem ini.” Jawab Pak Bambang selaku wakil dari pihak kepolisisn
Kota Yogyakarta.
Tradisi
Hajad Kawula Dalem ini sejatinya
mempunyai makna sebagai untuk selalu ingat kepada Tuhan yang telah memberikan
banyak kenikmatan dan Suro yang dalam
kalender Jawa berarti Eling yang
mempunyai makna sebagai bentuk
perenungan kepada manusia yang harus tetap ingat siapa dirinya dan apa
kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Picture by Google.com
Artikel by Diah Rahma, Nur Fitriyana, Aditiyas Tanjung, Risti Luluk

informasinya sangat membantu goooddd
BalasHapus