Jumat, 01 Desember 2017

#INFOdanPengetahuan Hajad Kawula Dalem Kota Yogyakarta

Berbicara mengenai tradisi yang ada di Indonesia tidak akan pernah ada habisnya. Indonesia merupakan negara multikultural. Negara yang kaya akan sumber daya, budaya, tradisi, pakaian adat, rumah adat, bahkan sampai ke lagu daerah. Salah satu dari sekian banyak budaya dan tradisi yang ada di Indonesia terdapat di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Provinsi D.I.Y tidak hanya terkenal sebutannya sebagai kota pelajar, tetapi juga dengan budaya dan tradisi yang masih sangat kental. Provinsi yang dipimpin oleh Gubernur yang biasa disebut dengan Sultan.
Google.com
Tradisi Hajad Kawula Dalem merupakan tradisi sekaligus budaya yang masih dipegang erat keberadaannya di Kota Yogyakarta. Hajad Kawula Dhalem biasanya diperingati pada bulan Suro dalam kalender Jawa, tepatnya pada tanggal awal bulan Suro yaitu tanggal 1 Suro. Tradisi Hajad Kawula Dalem biasanya dilakukan di alun-alun Utara, kemudian dilanjutkan dengan berjalan menuju Benteng Van De Burg kemudian mengelilngi benteng tersebut, masyarakat Kota Yogya biasa menyebutnya dengan Ritual Mubeng Benteng.
“Acara Hajad Kawula Dalem ini memang sudah terlaksana sejak dahulu Mbak, sudah menjadi tradisi dan rutin setiap awal bulan Suro tanggal 1, acaranya dimulai dengan ritual terlebih dahulu yang dilakukan di dalam keraton oleh Sultan dan para Abdi Dhalem, kemudian pemasangan Pathok di tengah alun-alun sebagai penanda untuk diadakannya Sekaten.” Tutur Ibu Kanut Sutanto . “Namun, untuk dua tahun berturut-turut ini tradisi Hajad Kawula Dalem tidak terlaksana mbak, baru dimulai tahun ini, biasanya rutin, nggak tahu karena apa.” Lanjut penuturan wanita 68 tahun itu.
Menurut pendapat Bapak Wachid Eko Purwanto salah satu dosen sastra Universitas Ahmad Dahlan, menurut Sejarah tradisi mubeng beteng paling tidak memiliki dua sudut pandang. Sudut pandang pertama, bermula sebagai bagian dari tradisi Jawa yang berkembang pada abad ke-6 sebelum munculnya kerajaan Mataram-Hindu. Dalam tradisi Jawa dikenal dengan istilah muser atau munjer. Dua kata ini memiliki arti aktivitas mengelilingi pusat. Pada zaman dulu, pusatnya adalah pusat desa. Manakala sebuah wilayah berkembang menjadi keraton, muser atau munjer ini diteruskan menjadi menjadi tradisi kraton. Kawula Dalem beraktivitas mengelilingi pusat keraton. Adapun sudut pandang kedua menyebutkan bahwa sejarah Mubeng Beteng  merupakan tradisi Jawa-Islam. Tradisi ini dimulai pada masa kerajaan Mataram Islam yang awalnya berdiri di Kotagede, Yogyakarta. Keraton Mataram Islam ini selesai dibangun pada tanggal 1 Suro 1580. Pada saat itulah tradisi mubeng beteng dimulai. Para prajurit keraton berjaga dari serangan musuh – waktu itu dari kerajaan Pajang – dengan cara  mengelilingi benteng kraton. Selanjutnya pada masa damai, tugas keliling beteng dialihkan kepada para abdi dalem keraton. Para abdi dalem keraton ini keliling beteng sambil berdzikir dan berdoa untuk keselamatan dan kejayaan keraton.
“Relasi mubeng beteng dengan zaman sekarang tentu tidak jauh dari sejarahnya. Sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keamanan dan keselamatan serta refleksi diri. Mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir dan berdoa. Maka tapa bisu yang menyertai tradisi mubeng beteng lebih bersifat spiritual dari pada hanya sekedar pelarangan tidak boleh berbicara. Tentu tradisi ini masih relevan dilakukan pada masa sekarang, dan makna yang dapat ditafsirkan dari Mubeng Benteng sebagai bentuk perenungan. Orang Jawa menyebut sebagai tirakat. Tirakat berasal dari bahasa Arab tariqah yang berarti jalan. Dalam bahasa Jawa sering disebut dengan lelaku. Tariqah dan lelaku ini bermuara  pada pepatah Jawa yang berbunyi ilmu iku kalakone kanthi laku. Yang terjemahan bebasnya dapat diartikan ilmu itu tercapai karena dilaksanakan. Maka laku mubeng beteng ini dapat dimaknai sebagai bagian dari laku untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kebaikan pada Tuhan.” Tutur dosen yang gemar meneliti naskah-naskah kuno tersebut.
Tradisi Hajad Kawula Dalem di Kota Yogyakarta tidak hanya diikuti oleh warga asli Kota Yogyakarta saja, melainkan siapapun bebas mengikuti acara tersebut tidak terkecuali wisatawan lokal maupun mancanegara yang sedang berkunjung di Kota Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya seluruh orang yang terlibat di tradisi Hajad Kawula Dalem tidak boleh bersuara atau yang biasa disebut dengan Tapa Bisu.
“Tradisi Hajad Kawula Dalem ini unik ya mbak, apalagi Jogja kota yang terkenal dengan berbagai macam tradisi. Saya dari sengaja dari Banjarnegara langsung ke sini untuk menyaksikan acara Hajad Kawula Dalem, datang bersama anak dan suami.” Jawab wisatawan asal Banjarnegara.
Pelaksanaan tradisi Hajad Kawula Dalem pemerintah Koya Yogyakarta banyak melibatkan berbagai pihak, termasuk untuk keamanan jalannya acara. Pihak keamanan yang terlibat dalam tradisi Hajad Kawula Dalem seperti Polisi Kota Yogyakarta sebagai pihak keamanan primer dan orang-orang Abdi Dhalem yang dipercaya untuk ikut mengamankan jalannya acara tersebut.
“Sejauh kami ikut serta dalam pengamanan tradisi Hajad Kawula Dalem tidak ada kendala yang berarti mbak, semua aman-aman saja berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Semua yang terlibat selalu menjaga ketertiban selama tradisi berlangsung, kami dari pihak kepolisian menerjunkan sekitar 200 personil untuk pengamanan acara Hajad Kawula Dalem ini.” Jawab Pak Bambang selaku wakil dari pihak kepolisisn Kota Yogyakarta.
Tradisi Hajad Kawula Dalem ini sejatinya mempunyai makna sebagai untuk selalu ingat kepada Tuhan yang telah memberikan banyak kenikmatan dan Suro yang dalam kalender Jawa berarti Eling yang mempunyai makna sebagai  bentuk perenungan kepada manusia yang harus tetap ingat siapa dirinya dan apa kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Picture by Google.com
Artikel by Diah Rahma, Nur Fitriyana, Aditiyas Tanjung, Risti Luluk

1 komentar: