“Bosan, rasanya bosan,” kata Larasati.
“Itu saja yang kau katakan mbak, hampir tiap hari aku mendengarnya,” sahut Ratna adik perempuan
Laras yang terlihat kesal mendengar keluhan-keluhan laras setiap harinya.
“Ya apa kamu ndak
bosen Na, aku ingin melihat kota dan hidup disana. Banyak hiburan dan banyak
tempat yang bisa aku kunjungi disana,” ujar Larasati.
“Lah sak karepmu mbak, disini memang desa
tapi lak yo gak ketinggalan zaman toh” Ratna mulai bosan dengan
pembicaraan Larasati dengan kegairahannya akan hidup di kota dan kemauan untuk
menetap disana.
Sepanjang jalan pulang menuju rumah pembahasan kedua
kakak beradik ini adalah tentang ambisi kakaknya yang ingin pergi ke kota.
Jarak yang dtempuhnya cukup lama setelah kegiatan pentas tari mereka dari desa
sebrang. Suasana yang akhirnya menjadi hening karena sang adik memilih jalan
terlebih dahulu dan membiarkan kakaknya berimajinasi. Selama lebih dari satu
jam berjalan kaki dan tibalah mereka di rumah yang hanya disambut oleh Sang
Nenek. Ayah mereka merupakan seorang Walikota yang kadang enggan untuk pulang
ke rumah karena alasan pekerjaan, sedangkan ibunya meninggal dunia setelah
melahirkan Ratna.
“Gimana nduk tadi pentasmu?” tutur Nenek kepada kedua
cucuya tersebut.
“Siplah, hanya saja dia mulai menggila nek tentang
impiannya itu,” jawab Ratna dengan menunjuk kakaknya yang sedang berbenah
pakaian. Namun Laras hanya melotot dan membiarkan aduan Ratna kepada Nenek.
Hari demi hari berlalu
seperti kehidupan pada umumnya. Sampai pada akhirnya adanya kejanggalan yang
menimpa Larasati setelah bangun tidur. Dia sama sekali tak mengenali tubuhnya
itu, keberadaannya di dalam kamar perempuan yang penuh dengan pernak-pernik
feminim, daster yang dikenakannya, rambut panjang yang tergerai sampai pundak,
sampai pada kejanggalan yang ada di dadanya.
“Dadaku tumbuh!!!”
Bergegas ia mencari
sebuah benda yang dapat memperlihatkan dirinya. Cermin. Dia mencari cermin
untuk memastikan siapa dia sebenarnya. Seolah ini adalah mimpi ia melihat sosok
perempuan dalam cermin itu adalah dirinya. Betapa dibuatnya bingung. Jakun yang
ia miliki di lehernya seolah menghilang, semua yang ada pada dirinya juga
menghilang.
“Aku berubah perempuan!!!”
Sama halnya yang
dialami oleh Nawang. Perempuan itu pun dikejutkan dengan dirinya yang berubah
seratus delapan puluh derajat menjadi seorang laki-laki. Laras ada pada tubuh
Nawang dan Nawang ada dalam tubuh Laras. Bagimana mungkin mereka bisa bertukar
tubuh sedang mereka tidak mengenal satu sama lain.
“Ini keren, benar-benar keren! Jadi laki-laki ini tinggal
di kota sebagaimana yang diinginkan olehku,” ia berkata sepanjang jalan ke
sekolah sambil menikmati apa yang selama ini ia bayangkan. Hiruk pikuk kota,
kebisingan, kemacetan, polusi udara, dan keramaian.
Kembali ke tubuh
Larasati, dimana ia masih bingung dengan hidupnya yang sekarang. Rambut yang
biasa dikucir dengan rapi, namun kini dibiarkan bergerai begitu saja.
Teman-temannya di sekolah pun merasa aneh pada Larasati yang sekarang karena
sifat tomboynya, keberanian, dan banyak lagi kekacauan setelah jiwa mereka
tertukar.
Lama-lama mereka
akhirnya paham dengan ketentuan yang ada setelah mereka bertukat jiwa. Tidak
setiap hari namun berselang ketika salah satunya memikirkan dunia yang ada pada
tubuh yang ia kunjungi. Itu pun berlaku saat mereka terjaga pada tidur di malam
hari dan keesokannya mereka bertukar tubuh. Pada akhirnya mereka pun tahu tugas
dari tubuh masing-masing dan juga mulai mengetahui nama serta informasi apa
saja yang harus dilakukan saat bertukar tubuh dari pemilik tubuh itu dengan
meninggalkan jejak entah itu di buku pelajaran, caatatan di ponsel bahkan
sampai mencorat-coret tubuh itu. Semua itu akhirnya menjadi hal biasa bagi
Nawang dan Laras. Mereka mengetahui keberadaan masing-masing dengan bertukar
tubuh tanpa ada satupun yang mengetahuinya.
“Namaku
Larasati, siapa namamu?” begitulah yang tertulis pada lengan Nawang menggunakan
spidol tinta permanen.
***
“Apa yang sebenarnya terjadi?” disambung helaan nafas
panjang Nawang dengan tubuh aslinya. Ia bertanya-tanya mengapa sosoknya menjadi
Larasati kini tak ada lagi. Sudah satu bulan lamanya ia tetap pada tubuh
aslinya. Rasa penasaran yang kerkecamuk dalam hatinya membuat ia tergerak untuk
mencari sosok Larasati pada kehidupan nyata. Ia bahkan berusaha mengingat apa
yang dilakukannya ketika ia berada dalam tubuh Larasati. Ketika ia ingat bahwa
Larasati tinggal pada suatu desa bernama Desa Pleret ia langsung bergegas pergi
mencarinya dengan meninggalkan kehidupannya yang ada di kota.
“Ya tak salah buatku untuk mencarinya,” gumam Nawang yang
saat itu ditemani kedua temannya untuk bertemu Larasati. Temannya berpikir
bahwa Nawang hanya sebatas bermimpi namun mereka beranggapan bisa saja sosok
Larasati ini nyata pada dunia dimana mereka ini tinggal. Berjalan, kemudian
menaiki berbagai kendaraan seperti kereta dan bus. Sampailah pada suatu wilayah
dimana tak ada seorang pun yang tahu desa yang telah digambarkan oleh Nawang.
Tak membuatnya putus asa, ia terus mencari berhari-hari. Sampai pada akhirnya
seorang temannya beranggapan bahwa itu hanyanlah sebuah mimpi dan Nawang
terlalu mengambil hati. Berbagai masukan yang temannya berikan pada Nawang dan
akhirnya mereka memutuskan untuk pulang pada keesokan harinya.
Disuatu tempat makan saat mereka berjalan pulang ia
menemukan sesuatu yang sama persis yaitu gambar peta dimana Larasati tinggal.
Tanpa ragu ia menanyakan pada pemilik tempat makan tersebut. Semua itu
menggugurkan bahwa Larasti bukanlah sebatas mimpi namun ia benar-benar ada dan
hidup di dunia yang sama. Namun terkejutlah ia setelah informasi yang ia dapat
dari si pemilik tempat makan. Untuk membuktikan bahwa yang dikatakan pemilik
tempat makan benar, Nawang diantar ke tempat yang ia cari selama ini untuk
bertemu Larasati. Naas, tempat tinggal Larasati sudah lenyap yang sampai saat
ini dipercaya penduduk sekitar sebagai tanah ambles karena kejadian gempa. Kemudian Nawang teringat akan
kejadian tiga tahun lalu dimana ia sebenarnya sudah tahu kejadian itu melalui
siaran di televisi.
Siapakah sosok Larasati yang dikenal Nawang saat itu
merupakan tanda tanya besar bagi dirinya. Namun ia tetap yakin dengan apa yang
belakangan ini yang ia alami bukanlah sekedar mimpi bunga tidur atau mimpi-
mimpi belaka. Bagaimana mungkin mimpi bisa senyata itu yang membuat Nawang bisa
sampai jatuh cinta dengan sosok yang menjadi temannya bertukar tubuh. Bagaimana
mungkin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar