Minggu, 11 Maret 2018

#AyoMenulisCerpen NAMAKU LARASATI





AKU TERLIBAT HUBUNGAN YANG SANGAT RUMIT. SULIT DIPAHAMI. SEPERTI MIMPI NAMUN TERASA SANGAT NYATA.

“Bosan, rasanya bosan,” kata Larasati.
“Itu saja yang kau katakan mbak, hampir tiap hari aku mendengarnya,” sahut Ratna adik perempuan Laras yang terlihat kesal mendengar keluhan-keluhan laras setiap harinya.
            “Ya apa kamu ndak bosen Na, aku ingin melihat kota dan hidup disana. Banyak hiburan dan banyak tempat yang bisa aku kunjungi disana,” ujar Larasati.
            Lah sak karepmu mbak, disini memang desa tapi lak yo gak ketinggalan zaman toh” Ratna mulai bosan dengan pembicaraan Larasati dengan kegairahannya akan hidup di kota dan kemauan untuk menetap disana.
            Sepanjang jalan pulang menuju rumah pembahasan kedua kakak beradik ini adalah tentang ambisi kakaknya yang ingin pergi ke kota. Jarak yang dtempuhnya cukup lama setelah kegiatan pentas tari mereka dari desa sebrang. Suasana yang akhirnya menjadi hening karena sang adik memilih jalan terlebih dahulu dan membiarkan kakaknya berimajinasi. Selama lebih dari satu jam berjalan kaki dan tibalah mereka di rumah yang hanya disambut oleh Sang Nenek. Ayah mereka merupakan seorang Walikota yang kadang enggan untuk pulang ke rumah karena alasan pekerjaan, sedangkan ibunya meninggal dunia setelah melahirkan Ratna.
            “Gimana nduk tadi pentasmu?” tutur Nenek kepada kedua cucuya tersebut.
            “Siplah, hanya saja dia mulai menggila nek tentang impiannya itu,” jawab Ratna dengan menunjuk kakaknya yang sedang berbenah pakaian. Namun Laras hanya melotot dan membiarkan aduan Ratna kepada Nenek.
Hari demi hari berlalu seperti kehidupan pada umumnya. Sampai pada akhirnya adanya kejanggalan yang menimpa Larasati setelah bangun tidur. Dia sama sekali tak mengenali tubuhnya itu, keberadaannya di dalam kamar perempuan yang penuh dengan pernak-pernik feminim, daster yang dikenakannya, rambut panjang yang tergerai sampai pundak, sampai pada kejanggalan yang ada di dadanya.
            “Dadaku tumbuh!!!”
Bergegas ia mencari sebuah benda yang dapat memperlihatkan dirinya. Cermin. Dia mencari cermin untuk memastikan siapa dia sebenarnya. Seolah ini adalah mimpi ia melihat sosok perempuan dalam cermin itu adalah dirinya. Betapa dibuatnya bingung. Jakun yang ia miliki di lehernya seolah menghilang, semua yang ada pada dirinya juga menghilang.
            “Aku berubah perempuan!!!”
Sama halnya yang dialami oleh Nawang. Perempuan itu pun dikejutkan dengan dirinya yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang laki-laki. Laras ada pada tubuh Nawang dan Nawang ada dalam tubuh Laras. Bagimana mungkin mereka bisa bertukar tubuh sedang mereka tidak mengenal satu sama lain.
            “Ini keren, benar-benar keren! Jadi laki-laki ini tinggal di kota sebagaimana yang diinginkan olehku,” ia berkata sepanjang jalan ke sekolah sambil menikmati apa yang selama ini ia bayangkan. Hiruk pikuk kota, kebisingan, kemacetan, polusi udara, dan keramaian.
Kembali ke tubuh Larasati, dimana ia masih bingung dengan hidupnya yang sekarang. Rambut yang biasa dikucir dengan rapi, namun kini dibiarkan bergerai begitu saja. Teman-temannya di sekolah pun merasa aneh pada Larasati yang sekarang karena sifat tomboynya, keberanian, dan banyak lagi kekacauan setelah jiwa mereka tertukar.
Lama-lama mereka akhirnya paham dengan ketentuan yang ada setelah mereka bertukat jiwa. Tidak setiap hari namun berselang ketika salah satunya memikirkan dunia yang ada pada tubuh yang ia kunjungi. Itu pun berlaku saat mereka terjaga pada tidur di malam hari dan keesokannya mereka bertukar tubuh. Pada akhirnya mereka pun tahu tugas dari tubuh masing-masing dan juga mulai mengetahui nama serta informasi apa saja yang harus dilakukan saat bertukar tubuh dari pemilik tubuh itu dengan meninggalkan jejak entah itu di buku pelajaran, caatatan di ponsel bahkan sampai mencorat-coret tubuh itu. Semua itu akhirnya menjadi hal biasa bagi Nawang dan Laras. Mereka mengetahui keberadaan masing-masing dengan bertukar tubuh tanpa ada satupun yang mengetahuinya.
“Namaku Larasati, siapa namamu?” begitulah yang tertulis pada lengan Nawang menggunakan spidol tinta permanen.
***
            “Apa yang sebenarnya terjadi?” disambung helaan nafas panjang Nawang dengan tubuh aslinya. Ia bertanya-tanya mengapa sosoknya menjadi Larasati kini tak ada lagi. Sudah satu bulan lamanya ia tetap pada tubuh aslinya. Rasa penasaran yang kerkecamuk dalam hatinya membuat ia tergerak untuk mencari sosok Larasati pada kehidupan nyata. Ia bahkan berusaha mengingat apa yang dilakukannya ketika ia berada dalam tubuh Larasati. Ketika ia ingat bahwa Larasati tinggal pada suatu desa bernama Desa Pleret ia langsung bergegas pergi mencarinya dengan meninggalkan kehidupannya yang ada di kota.
            “Ya tak salah buatku untuk mencarinya,” gumam Nawang yang saat itu ditemani kedua temannya untuk bertemu Larasati. Temannya berpikir bahwa Nawang hanya sebatas bermimpi namun mereka beranggapan bisa saja sosok Larasati ini nyata pada dunia dimana mereka ini tinggal. Berjalan, kemudian menaiki berbagai kendaraan seperti kereta dan bus. Sampailah pada suatu wilayah dimana tak ada seorang pun yang tahu desa yang telah digambarkan oleh Nawang. Tak membuatnya putus asa, ia terus mencari berhari-hari. Sampai pada akhirnya seorang temannya beranggapan bahwa itu hanyanlah sebuah mimpi dan Nawang terlalu mengambil hati. Berbagai masukan yang temannya berikan pada Nawang dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang pada keesokan harinya.
            Disuatu tempat makan saat mereka berjalan pulang ia menemukan sesuatu yang sama persis yaitu gambar peta dimana Larasati tinggal. Tanpa ragu ia menanyakan pada pemilik tempat makan tersebut. Semua itu menggugurkan bahwa Larasti bukanlah sebatas mimpi namun ia benar-benar ada dan hidup di dunia yang sama. Namun terkejutlah ia setelah informasi yang ia dapat dari si pemilik tempat makan. Untuk membuktikan bahwa yang dikatakan pemilik tempat makan benar, Nawang diantar ke tempat yang ia cari selama ini untuk bertemu Larasati. Naas, tempat tinggal Larasati sudah lenyap yang sampai saat ini dipercaya penduduk sekitar sebagai tanah ambles karena kejadian gempa. Kemudian Nawang teringat akan kejadian tiga tahun lalu dimana ia sebenarnya sudah tahu kejadian itu melalui siaran di televisi.
            Siapakah sosok Larasati yang dikenal Nawang saat itu merupakan tanda tanya besar bagi dirinya. Namun ia tetap yakin dengan apa yang belakangan ini yang ia alami bukanlah sekedar mimpi bunga tidur atau mimpi- mimpi belaka. Bagaimana mungkin mimpi bisa senyata itu yang membuat Nawang bisa sampai jatuh cinta dengan sosok yang menjadi temannya bertukar tubuh. Bagaimana mungkin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar