“SEPASANG MERPATI TUA”
Karya : Bakti Soemanto
1. Unsur Intrinsik
a. Tema
Tema dari Sepasang
Merpati Tua karya Bakti Soemanto yaitu keinginan atau harapan untuk
mendapatkan kesejahteraan hidup. Hal ini dibuktikan dalam pernytaan tokoh:
Kakek : “Seorang
diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan
orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar
hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan
diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat
saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang
bisa membujuk….”
Kakek : “Bidang
sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini,
karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat
jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk,
sampahnya luar biasa banyaknya…”
b.
Tokoh dan penokohan
Tokoh-tokoh
yang terdapat dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu:
J Tokoh utamanya, yaitu Nenek. Ia adalah tokoh yang
paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai
kejadian.
J Tokoh Tambahannya,
yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang ada keterkaitannya dengan tokoh utama,
secara langsung ataupun tak langsung.
J Tokoh protagonisnya,
yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh yang baik dan pembangun alur dalam
cerita.
J Tokoh antagonisnya,
yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang yang memberi konflik pada tema dan
memiliki kehendak yang berlawanan dengan Nenek.
Penokohan dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu:
J Nenek, seorang wanita
yang baik, manja, pengkritik, cengeng, pemberani, gengsi, dan peduli.
Kebaikannya ia tunjukan ketika ia mau mendengarkan kata-kata Kakek walaupun ia
selalu tidak memahami arti dari kata-kata Kakek, tetapi ia pun mendukung si
Kakek untuk memenuhi keinginannya dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat
disekelilingnya. Sikap manjanya ia tunjukan ketika ia berdiri menghampiri Kakek
dan duduk disebelahnya. Sikap pengkritiknya ia tunjukan pada saat ia selalu
menyela dan mengkritik segala ucapan Kakek. Sikap cengengnya ia tunjukan pada
saat ia menangis karena tersinggung mendengar kata-kata Kakek yang mengatakan
bahwa “Mengaku dosa didepan orang banyak”, serta menangis pada saat Nenek
melihat Kakek rebah tak berdaya karena terlalu banyak bicara.
J Kakek, seorang lelaki
yang baik, bijaksana, bergaya, pemalu, peduli, pemuji, pengkritik, percaya
diri, dan semangat tingkat tinggi. Kebaikannya ia tunjukan dalam jiwanya
yang tertanam nilai-nilai kemanusiaan yang begitu kuat, ia ingin meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dengan mengubah pola pikir serta konsep yang tidak
mengutamakan masyarakat menjadi orang yang lebih baik. Kebijaksanaannya ia
tunjukan ketika ia mau mendengarkan nasehat istrinya dengan penuh lapang dada
dan dengan kebijaksanaanya pula ia menerima segala keluhan-keluhan istrinya.
c. Dialog
Nenek : (Bicara sendiri). “Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya
tidak ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada
gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…”(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
Kakek : (Masuk).
“Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?”
Nenek : “Astaga!
Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?”
Kakek : “Tidak
ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran.”
Nenek : “Mengapa
membaca koran harus pakai kopyah segala?”
Kakek : “Agar
komplit, Bu”
...........
Kutipan
di atas disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang.
Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara
bergantian oleh tokoh Nenek dan Kakek.
d. Alur
Alur dari drama Sepasang
Merpati Tua karya Bakti Soemanto adalah;
J Eksposisi
(Pelukisan awal)
Panggung
menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah
kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko,
sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat
sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.
J Konflik
Kakek : “Mengaku dosa di depan orang banyak!”
Nenek : “Hu…hu…hu…” (Menangis)
Kakek : “He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit
nyamuk rupanya?”
Nenek : “Kau memperolok-olok aku di depan orang
banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga
ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu…”
Kakek : “Bukan
maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.”
Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai
masuk pada tahap konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa Nenek
merasa di ejek/di olok-olok oleh Kakek dengan kata-kata “Mengaku dosa di depan
orang banyak”, hingga membuatnya menagis dengan kata-kata tersebut.
J
Koplikasi (pertikaian)
Cerita
perdebatan antara Nenek dan Kakek tentang jabatan yang ingin dicapai oleh
Kakek. Dimulai dengan keinginan Kakek yang ingin menjadi profesor tetapi
ditentang oleh Nenek yang lebih mengizinkan Kakek untuk menjadi diplomat dan
Kakek pun menerima saran Nenek demi menyelamatkan perkawinan mereka. Dan
ceritanya dilanjutkan dengan keinginan Kakek yang ingin pindah jabatan dari
diplomat menjadi teknokrat.
J Klimaks (puncak ketegangan)
Cerita
mencapai puncaknya pada saat Kakek berbicara dengan penuh semangat hingga ia
tidak dapat mengontrol bicaranya sendiri yang membuat penyakit napasnya kambuh
kembali. Peringatan Nenek tidak didengarnya karena semangatnya tersebut. Karena
semangatnya yang terlalu berlebihan, hingga membuatnya rebah dan membuat Nenek
menjerit dan menangis.
J
Peleraian
Kakek : “Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek).
Mengapa kau menangisi aku, tangisilah dirimu sendiri.”
Nenek : “Kau
masih hidup…?”
Kakek : “Aku
tidak begitu yakin, selama aku terbelenggu oleh doktrin. Aku hanya mengerti,
apa aku hidup atau tidak, kalau aku menghayati hidupku sendiri….”
Nenek : “Tetapi
kau berbicara, kau bernapas….”
Kakek : “Bukan
itu ukuran adanya kehidupan….”
Cerita
ini dileraikan dengan bangkitnya Kakek dari rebahnya dan penjelasan Kakek
kepada Nenek tentang arti kehidupan yang sebenarnya.
J Penyelesaian
Cerita
ini diselesaikan dengan bunyinya lonceng jam dinding dua belas kali untuk yang
kedua kalinya yang membuat Nenek heran, dan penjelasan lebih lanjut oleh Kakek
tentang kehidupan bahwa kebiasaan, ukuran, dan konep tidak terlalu cocok untuk
hidup manusia. Dan juga masih menyisahkan pertanyaan tentang bagaimana cara
mengerti kahidupan. Cerita ini pun berakhir happy ending karena Kakek kembali
tersadar dari perebahannya dan bersatu kembali dengan Nenek.
e. Latar/setting
Latar
dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto ini terbagi tiga dua
jenis, yaitu:
1) Latar tempat
J Ruangan tengah rumah,
tempat Kakek dan Nenek duduk berbincang-bincang. “Panggung menggambarkan sebuah
ruangan tengah rumah sepasang orang tua.”
J Sofa, tempat Kakek duduk
membaca Koran dan tempat Nenek menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek.
Kakek :
(Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka
lembarannya)” dan pada kutipan
Nenek :
(Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu
menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
2) Latar waktu
J Menjelang malam hari,
waktu Kakek dan Nenek berbincang-bincang.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam.
J Empat puluh tahun yang
telah lampau, waktu Kakek menjadi juru tulis.
J Delapan puluh tahun,
waktu Nenek menjalani kehidupan.
Nenek : Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti.
Nenek : Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti.
3) Latar suasana
J Jengkel, perasaan Nenek
kepada Kakek karena selalu bersolek dengan memakai kopiah ketika membaca koran.
J Romantis, suasana ketika
Nenek duduk di samping Kakek sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kakek
sebelah kiri.
Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
Nenek : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
J Berdebat, sikap Nenek
dan Kakek yang memperdebatkan jabatan menjadi profesor, diplomat, dan
teknokrat.
f.
Amanat
Amanat dari drama Sepasang Merpati Tua karya
Bakti Soemanto, yaitu:
Jika kita memiliki jabatan tertentu, maka
manfaatkanlah jabatan tersebut dengan sebaik-baiknya demi kepentingan diri
sendiri dan orang lain dan Hargailah tiap kehidupan yang diperoleh, karena
kehidupan yang telah diperoleh sebelumnya tidak akan pernah kembali lagi.
2.
Unsur Ekstrinsik
Nilai-nilai yang terkandung dalam drama Sepasang
Merpati Tua karya Bakti Soemanto, yaitu:
a. Nilai sosial budaya
Nilai
sosial-budaya terletak pada niat Kakek yang ingin menjadi diplomat kolong
jembatan untuk membantu orang-orang yang tinggal di kolong jembatan agar mau
hidup baik-baik dengan berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak dan
menimbulkan kepercayaan diri sendiri. Juga dapat dilihat pada niat Kakek yang
ingin menjadi Teknokrat di bidang persampahan demi mencegah terjadinya banjir.
b. Nilai moral
Nilai
moral teletak pada sikap Kakek yang bijaksana dalam menanggapi segala sikap
Nenek terhadapnya. Juga pada sikap Kakek yang peduli terhadap sesama dengan
memperhatikan kehidupan orang-orang yang hidup di kolong jembatan dan niat
Kakek untuk membersihkan sampah-sampah demi mencegah terjadinya banjir yang
dapat merugikan banyak orang. Serta, teletak pada sikap Nenek yang peduli
terhadap Kakek dengan jabatan yang ingin diraihnya dan sikap pedulinya terhadap
kondisi Kakek.
c. Nilai agama
Nilai
agama terletak pada perkataan Nenek dengan membawa nama Tuhan dalam menentukan
jenis diplomat yang harus diambil oleh Kakek. Serta terletak pada niat Kakek
yang ingin membersihkan sampah-sampah yang menumpuk di selokan, sebab dalam
agama menyatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.
d. Nilai ekonomi
Nilai ekonomi terletak
pada kehidupan Kakek dan Nenek yang hidup sederhana dengan menikmati hidangan
apa adanya, serta dengan perabotan rumah yang mulai lusuh. “Panggung
menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.”




