Jumat, 17 November 2017

#OpiniKU Mahasiswa Kehilangan Identitas

Mahasiswa kini telah kehilangan identitasnya sebagai generasi penerus bangsa serta golongan intelektual yang berperan sebagai pemikir. Begitulah kira-kira gambaran yang melekat bagi mereka penyandang predikat mahasiswa. Image yang didapat oleh mahasiswa sangatlah hebat. Maha dalam kata mahasiswa sudah cukup pantas bila mereka berjalan sesuai dengan perannya. Kampus tempat mereka belajar tidak kalah hebat yang selalu diidentikkan dengan tempat komunitas perubahan. Mengapa demikian? Karena dalam catatan sejarah para mahasiswa terdahulu telah memenuhi perannya dengan cukup baik. Selain berperan sebagai  pemikir, mahasiswa juga berperan sebagai oposisi pemerintahan yang paling independen pada masa orde baru. Lantas sekarang?
Mahasiswa pada umumnya adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi. Dimana mereka belajar ilmu pengetahuan yang belum didapatkan pada jenjang sebelumnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat untuk bekal mereka pada kehidupan selanjutnya baik dunia maupun akhirat. Apakah tugas mahasiswa hanya sekedar menuasai materi perkuliahan? Tidak, menjadi mahasiswa tidak semudah itu. Justru semakin tinggi jenjang sekolah maka semakin berat kewajiban serta tanggung jawab yang dipikul. Tugas mahasiswa yang lainya berupa pemaknan mahasiswa itu sendiri sebagai agent of change. Mahasiswa diharapkan mampu mengupayakan perubahan kondisi sosial masyarakat ke arah yang jauh lebih sejahtera dari semula. Namun pada era sekarang mahasiswa seperti kehilangan identitasnya. Mari kita tengok kondisi mahasiswa saat ini, pada perkembangan teknologi yang semakin pesat, figur mahasiswa dalam dunianya membentuk perilaku yang konsumtif pada segala hal. Sikap ramah dan rasa sosial yang tinggi seharusnya tercermin pada diri mereka, namun itu semua mulai hilang dan menjadi individualis. Keadaan seperti ini membuat resah bangsa ini karena mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Bagaimana bangsa ini akan maju jika mahasiswa yang digadang-gadang sebagai generasi penerus bangsa kualitas yang dimiliki mahasiswa itu sendiri semakin menurun. Banyak penyandang gelar sarjana yang setelah lulus kuliah menjadi pengangguran dan lontang lantung tidak memiliki tujuan karena kurang memiliki skill. Lantas apa yang dilakukan selama menjadi mahasiswa? Jika berakhir seperti itu mereka mantan mahasiswa yang menganggur hanya menyia-nyiakan waktunya saja.
Namun tidak semua mahasiswa pada era ini memiliki sifat demikian. Beberapa mahasiswa sadar akan fungsi dan perannya  sebagai mahasiswa dan manusia. Dapat dilihat di daerah Jogjakarta terdapat beberapa komunitas sebagai wadah mahasiswa yang mengupayakan perubahan kondisi sosial menjadi lebih baik dan mengabdi pada manyarakat, diantaranya akademi berbagi yang mengadakan kelas gratis untuk mempelajari berbagai hal, Jogja menyala, saung mimpi, kmunitas book for mountain, dan masih banyak yang lainnya. Mereka mau peduli dan berbagoi ilmu kepada mereka yang membutuhkan.
Jika hanya beberapa saja mahasiswa yang sadar akan fungsi dan perannya. Maka hanya akan beberapa saja dari mahasiswa seluruh bangsa yang memiliki identitas seutuhnya menjadi mahasiswa. Beberapa saja dari mahasiswa yang dapat memajukan kehidupan bangsa. Lantas apa peran dari mahasiswa yang kurang memiliki kesadaran akan fungsi dan perannya? Apa mereka pantas disebut mahasiswa?
Bisa dikatakan bangsa ini sedang sakit. Lahirnya generasi penerus bangsa dengan kualitas sumber daya manusia yang baik adalah obat dari penawar rasa sakit bangsa ini. Jika kalian peduli terhadap bangsa ini, marilah kita lakukan perubahan dimulai dari introspeksi diri dan membenahi sikap sehingga dapat menjadi mahasiswa yang selayaknya mahasiswa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar