Mahasiswa
kini telah kehilangan identitasnya sebagai generasi penerus bangsa serta
golongan intelektual yang berperan sebagai pemikir. Begitulah kira-kira
gambaran yang melekat bagi mereka penyandang predikat mahasiswa. Image yang
didapat oleh mahasiswa sangatlah hebat. Maha dalam kata mahasiswa sudah cukup
pantas bila mereka berjalan sesuai dengan perannya. Kampus tempat mereka
belajar tidak kalah hebat yang selalu diidentikkan dengan tempat komunitas
perubahan. Mengapa demikian? Karena dalam catatan sejarah para mahasiswa
terdahulu telah memenuhi perannya dengan cukup baik. Selain berperan
sebagai pemikir, mahasiswa juga berperan
sebagai oposisi pemerintahan yang paling independen pada masa orde baru. Lantas
sekarang?
Mahasiswa
pada umumnya adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi
di sebuah perguruan tinggi. Dimana mereka belajar ilmu pengetahuan yang belum
didapatkan pada jenjang sebelumnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) atau
sederajat untuk bekal mereka pada kehidupan selanjutnya baik dunia maupun
akhirat. Apakah tugas mahasiswa hanya sekedar menuasai materi perkuliahan?
Tidak, menjadi mahasiswa tidak semudah itu. Justru semakin tinggi jenjang
sekolah maka semakin berat kewajiban serta tanggung jawab yang dipikul. Tugas
mahasiswa yang lainya berupa pemaknan mahasiswa itu sendiri sebagai agent of
change. Mahasiswa diharapkan mampu mengupayakan perubahan kondisi sosial
masyarakat ke arah yang jauh lebih sejahtera dari semula. Namun pada era sekarang
mahasiswa seperti kehilangan identitasnya. Mari kita tengok kondisi mahasiswa
saat ini, pada perkembangan teknologi yang semakin pesat, figur mahasiswa dalam
dunianya membentuk perilaku yang konsumtif pada segala hal. Sikap ramah dan
rasa sosial yang tinggi seharusnya tercermin pada diri mereka, namun itu semua
mulai hilang dan menjadi individualis. Keadaan seperti ini membuat resah bangsa
ini karena mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Bagaimana bangsa ini akan
maju jika mahasiswa yang digadang-gadang sebagai generasi penerus bangsa
kualitas yang dimiliki mahasiswa itu sendiri semakin menurun. Banyak penyandang
gelar sarjana yang setelah lulus kuliah menjadi pengangguran dan lontang
lantung tidak memiliki tujuan karena kurang memiliki skill. Lantas apa yang
dilakukan selama menjadi mahasiswa? Jika berakhir seperti itu mereka mantan
mahasiswa yang menganggur hanya menyia-nyiakan waktunya saja.
Namun
tidak semua mahasiswa pada era ini memiliki sifat demikian. Beberapa mahasiswa
sadar akan fungsi dan perannya sebagai
mahasiswa dan manusia. Dapat dilihat di daerah Jogjakarta terdapat beberapa
komunitas sebagai wadah mahasiswa yang mengupayakan perubahan kondisi sosial
menjadi lebih baik dan mengabdi pada manyarakat, diantaranya akademi berbagi
yang mengadakan kelas gratis untuk mempelajari berbagai hal, Jogja menyala,
saung mimpi, kmunitas book for mountain, dan masih banyak yang lainnya. Mereka
mau peduli dan berbagoi ilmu kepada mereka yang membutuhkan.
Jika
hanya beberapa saja mahasiswa yang sadar akan fungsi dan perannya. Maka hanya
akan beberapa saja dari mahasiswa seluruh bangsa yang memiliki identitas
seutuhnya menjadi mahasiswa. Beberapa saja dari mahasiswa yang dapat memajukan
kehidupan bangsa. Lantas apa peran dari mahasiswa yang kurang memiliki
kesadaran akan fungsi dan perannya? Apa mereka pantas disebut mahasiswa?
Bisa dikatakan bangsa
ini sedang sakit. Lahirnya generasi penerus bangsa dengan kualitas sumber daya
manusia yang baik adalah obat dari penawar rasa sakit bangsa ini. Jika kalian
peduli terhadap bangsa ini, marilah kita lakukan perubahan dimulai dari
introspeksi diri dan membenahi sikap sehingga dapat menjadi mahasiswa yang
selayaknya mahasiswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar