Senin, 20 November 2017

Analisis Cerpen

 “Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi” Karya Kuntowijoyo dengan Pendekatan Mimetik

            Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi karya Kuntowijoyo merupakan cerpen yang secara rinci dan tegas mengangkat permasalahan kehidupan manusia dari aspek sosial dan politik. Isinya berifat faktual empiris imajinatif, yaitu berisi fakta-fakta bedasarkan pengalaman hidup sang pengarang yang dikemas dengan tambahan imajinatif dalam bentuk penyusunan bahasanya. Kemasan bahasanya memudahkan siapa saja yang membaca dan mengkajinnya. Bedasarkan hal-hal tersebut perlu adanya menganalisis perilaku tokoh cerpen dengan kajian mimetik. Pendekatan mimetik merupakan pendekatan yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan realitas atau kenyataan. Dalam pandangan mimetik, karya sastra tidak mungkin dapat dipahami tanpa mengkaitkannya dengan semesta sebagai simber penciptanya. Sastra disini dimaksudka sebagai cerminan dari masyarakat.
Hubungan antara cerpen Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi dengan dunia nyata terdapat pada bagian awal cerita yang menjelaskan bahwa kisah pada cerpen tersebut benar adanya pada pemerintahan Presiden Soeharto dan Pangkopkamtib yang dipegang Sudomo. Oleh Kuntowijoyo digambarkan pada peristiwa tingkat desa di pinggir kota Jogjakarta. Ceritanya dimulai dari Sutarjo (37 tahun) seorang pengusaha konveksi mencalonkan diri menjadi kepala desa atau lurah di desanya. Pesaing terkuatnya adalah mantan seorang kapten TNI yang baru saja pensiun.
Orang tua Sutarjo pernah terlibat dalam gerakan G30S/PKI sehingga dia dianggap tidak “bersih lingkungan”. Latar belakang orang tuanya inilah yang menyebabkan dia harus “membersihkan lingkungan” dengan cara mencari dukungan dari seorang anggota DPRD perwakilan partai Golkar yang dulunya Ketua Masjumi dan Ketua MDI dan mengunjungi kuburan kakeknya yang dulu pernah menjadi lurah dan terkenal pemurah, rendah hati, suka menolong, dan sakti mandraguna. Dalam kajian mimetik adanya perilaku lobi politik yang dilakukan oleh Sutarjo merefleksikan bahwa politisi dalam dunia nyata membutuhkan orang atau pihak lain dalam rangka menyukseskan programnya atau apa yang diinginkan. Hal tersebut biasa dilakukan oleh politikus pada zaman dulu sampai sekarang. Kemudian pada waktu itu anak-anak mantan pengikut G30S/PKI tidak akan diangkat menjadi PNS atau pejabat apapun maka dalam cerita disebut tidak bersih lingkungan. Sutarjo mengandalkan nama keluarganya, perilaku ini juga merefleksi perilaku dalam dunia nyata yaitu seseorang yang tidak yakin pada kemampuannya sendiri akhirnya mengandalkan pihak lain diantaranya keluarga.
Tokoh Sutarjo berkeinginan dirinya dikenal dan didukung oleh masyarakat dalam pemilihan lurah dengan cara mengadakan berbagai kegiatan antara lain tahlil, yasinan, dan pengajian akbar walaupun ia sendiri pengikut paham Muhammadiyah yang tidak menganjurkan para pengikutnya mengadakan acara tahlilan atau yasinan. Bedasarkan pendekatan mimetik perilaku ini merefleksikan perilaku pejabat yang suka tebar pesona menjelang pilkada atau pilpres ataupun setelah pejabat tersebut jatuh dan akan bangkit lagi dengan kata lain untuk merehabilitasi nama baik.

Pesaing dari Sutarjo menggunakan strategi taktik yaitu mengundang tayub untuk berjoget bersama penduduk dan money politics dengan para pemilih dan panitia pencatat akan mendapat imbalan sepatutnya. Rapi, jali, halus, dan tak bisa bocor. Setelah mengitungan suara ternyata Sutarjo kalah telak karena money politics yang dimainkan oleh lawannya. Perilaku money politics ini merefleksi bahwa politik terutama di negeri ini tidak dapat terhindar dari uang. Maka tak khayal bila pemerintahan yang ada kebanyakan terlibat kasus korupsi karena pada masa kampanye saja sudah berani bermain dengan uang apalagi setelah menduduki posisi yang dibanjiri dengan uang. Pada kenyataannya siapa yang masuk ke dalam dunia politik kebanyakan mereka yang menang memang menggunakan strategi yang diterapkan pada lawan dari tokoh Sutarjo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar