“Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi” Karya Kuntowijoyo dengan Pendekatan Mimetik
Pelajaran Pertama Bagi Calon
Politisi karya Kuntowijoyo merupakan cerpen yang secara rinci dan tegas
mengangkat permasalahan kehidupan manusia dari aspek sosial dan politik. Isinya
berifat faktual empiris imajinatif, yaitu berisi fakta-fakta bedasarkan
pengalaman hidup sang pengarang yang dikemas dengan tambahan imajinatif dalam
bentuk penyusunan bahasanya. Kemasan bahasanya memudahkan siapa saja yang
membaca dan mengkajinnya. Bedasarkan hal-hal tersebut perlu adanya menganalisis
perilaku tokoh cerpen dengan kajian mimetik. Pendekatan mimetik merupakan
pendekatan yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan realitas atau kenyataan.
Dalam pandangan mimetik, karya sastra tidak mungkin dapat dipahami tanpa
mengkaitkannya dengan semesta sebagai simber penciptanya. Sastra disini
dimaksudka sebagai cerminan dari masyarakat.
Hubungan
antara cerpen Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi dengan dunia nyata terdapat
pada bagian awal cerita yang menjelaskan bahwa kisah pada cerpen tersebut benar
adanya pada pemerintahan Presiden Soeharto dan Pangkopkamtib yang dipegang
Sudomo. Oleh Kuntowijoyo digambarkan pada peristiwa tingkat desa di pinggir
kota Jogjakarta. Ceritanya dimulai dari Sutarjo (37 tahun) seorang pengusaha
konveksi mencalonkan diri menjadi kepala desa atau lurah di desanya. Pesaing
terkuatnya adalah mantan seorang kapten TNI yang baru saja pensiun.
Orang
tua Sutarjo pernah terlibat dalam gerakan G30S/PKI sehingga dia dianggap tidak
“bersih lingkungan”. Latar belakang orang tuanya inilah yang menyebabkan dia
harus “membersihkan lingkungan” dengan cara mencari dukungan dari seorang
anggota DPRD perwakilan partai Golkar yang dulunya Ketua Masjumi dan Ketua MDI
dan mengunjungi kuburan kakeknya yang dulu pernah menjadi lurah dan terkenal
pemurah, rendah hati, suka menolong, dan sakti mandraguna. Dalam kajian mimetik
adanya perilaku lobi politik yang dilakukan oleh Sutarjo merefleksikan bahwa
politisi dalam dunia nyata membutuhkan orang atau pihak lain dalam rangka
menyukseskan programnya atau apa yang diinginkan. Hal tersebut biasa dilakukan
oleh politikus pada zaman dulu sampai sekarang. Kemudian pada waktu itu
anak-anak mantan pengikut G30S/PKI tidak akan diangkat menjadi PNS atau pejabat
apapun maka dalam cerita disebut tidak bersih lingkungan. Sutarjo mengandalkan
nama keluarganya, perilaku ini juga merefleksi perilaku dalam dunia nyata yaitu
seseorang yang tidak yakin pada kemampuannya sendiri akhirnya mengandalkan
pihak lain diantaranya keluarga.
Tokoh
Sutarjo berkeinginan dirinya dikenal dan didukung oleh masyarakat dalam
pemilihan lurah dengan cara mengadakan berbagai kegiatan antara lain tahlil,
yasinan, dan pengajian akbar walaupun ia sendiri pengikut paham Muhammadiyah
yang tidak menganjurkan para pengikutnya mengadakan acara tahlilan atau
yasinan. Bedasarkan pendekatan mimetik perilaku ini merefleksikan perilaku
pejabat yang suka tebar pesona menjelang pilkada atau pilpres ataupun setelah
pejabat tersebut jatuh dan akan bangkit lagi dengan kata lain untuk
merehabilitasi nama baik.
Pesaing
dari Sutarjo menggunakan strategi taktik yaitu mengundang tayub untuk berjoget
bersama penduduk dan money politics
dengan para pemilih dan panitia pencatat akan mendapat imbalan sepatutnya.
Rapi, jali, halus, dan tak bisa bocor. Setelah mengitungan suara ternyata
Sutarjo kalah telak karena money politics
yang dimainkan oleh lawannya. Perilaku money
politics ini merefleksi bahwa politik terutama di negeri ini tidak dapat
terhindar dari uang. Maka tak khayal bila pemerintahan yang ada kebanyakan
terlibat kasus korupsi karena pada masa kampanye saja sudah berani bermain
dengan uang apalagi setelah menduduki posisi yang dibanjiri dengan uang. Pada
kenyataannya siapa yang masuk ke dalam dunia politik kebanyakan mereka yang
menang memang menggunakan strategi yang diterapkan pada lawan dari tokoh
Sutarjo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar