Sabtu, 18 November 2017

#INFOdanPengetahuan JUMPRIT


Apakah kalian tahu bahwa sejarah Jumprit merupakan bagian dari runtuhnya Kerajaan Majapahit💀😎

Jumprit boleh dikatakan sebagai bagian dari sejarah runtuhnya Majapahit. Karena dari catatan yang ada, nama Jumprit sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan salah satu penasehat Kertabumi (Raja Majapahit yang terakhir) yaitu Pangeran Singonegoro. 
Alkisah waktu itu, Kerajaan Islam Demak yang diperintah oleh Raden Patah terus melakukan perluasan daerah termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Majapahit.. Ada yang tunduk dan ada yang tidak tunduk terhadap kepemimpinan baru di bawah Raden Patah. Salah satunya adalah Pangeran Singonegoro yang tidak tunduk, sehingga beliau akhirnya mengasingkan diri ke dataran tinggi di daerah Tegalrejo Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Nama Jumprit sendiri berasal dari salah seorang penduduk Kulon Progo. Cerita singkatnya adalah ketika itu Ki Jumprit, salah seorang penduduk yang tinggal di tepi Kali Progo terkena penyakit kulit yang parah dan tidak bisa disembuhkan. Karena sudah merasa tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya maka Ki Jumprit berniat mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri. Pada saat itulah datang wangsit yang memerintahkan agar Ki Jumprit mandi di Sendang yang berdekatan dengan Makam Pangeran Singonegoro. Dan akhirnya setelah mandi di sendang tersebut, penyakit kulit yang diderita sembuh dan selanjutnya Ki Jumprit menjadi juru kunci di tempat tersebut sampai akhir hayatnya. Untuk menghormati keberadaan juru kunci tersebut maka dinamakanlah sendang tersebut dengan nama Jumprit sampai sekarang. Sendang tersebut memiliki legenda tersendiri, menurut Muchtasori pegawai perum perhutani yang menjadi pegawai disana, sumber mta air tersebut ditemukan oleh Pangeran Singonegoro seorang penganut agama Hindu Syiwa yang menjadi penasehat spiritual kerajaan Majapahit. Di penghujung rntuhnya kerajaan Majapahit Pangeran Singonogoro menyingkir bersama 20 kera yang menjadi pengawalnya. Dalam perjalanannya ia menemukan sendang atau sumber

mata air, kemudian ia bertapa disana. Dalam pertapaannya itu ia menjadi seorang Brahmana dan mendapat julukan Panembahan Ciptaning. Setelah meninggal dunia ia dikuburkan disana termasuk istrinya yang dianggap keturunan Tionghoa. Adapula cerita lain mengnai ikhwal keyakinan bahwa air sendang Jumprit dipercaya dapat menyembuhakan penyakit. Saat ini masih banyak orang yang datang ke Jumprit untuk kungkum atau membawa pulang airnya. Katanya air tersebut bisa menyembuhkan mereka dari penyakit. Selain itu ada juga yang memiliki keinginan bisa terwujud kalau berendam di sendang pada malam hari.
Hingga saat ini sendang Jumprit dijaga oleh 20 ekor kera, yang dipercaya sebagai Ki Dipo atau Hanoman Putih. Konon jumlah kera-kera itu tidak pernah berkurang ataupun bertambah. Kalau ada kelahiran baru, kera dewasa akan menyingkir dan menghilang. Binatang tu berkeliaran di pepohonan sekitarnya.
Untuk menuju ke tempat ini tidaklah terlalu sulit, karena hanya berjarak sekitar kurang lebih dua puluh enam kilometer dari Kota Temanggung arah Ngadirejo. Jalan menuju tempat ini dari Temanggung juga terbilang bagus, namun berkelok-kelok dan turun naik seperti pada umumnya kontur jalan pegunungan. Karena sejarahnya tersebut banyak orang yang berkunjung kesini untuk mendapatkan khasiat air sendang jumprit untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Namun diluar itu semua dengan segala kekurangannya tempat ini memang layak dikunjungi untuk sekedar menikmati suasana khas pegunungan atau melepas kepenatan selepas melakukan rutinitas sehari-hari. Puluhan monyet yang menurut sejarahnya adalah keturunan Ki Dipo juga bisa kita saksikan bergelantungan di pohon maupun yang bermain-main disekitar lokasi parkir mobil.
Berada diketinggian sekitar delapan ratus meter di atas permukaan air laut di salah satu sisi Gunung Sindoro menjadikan tempat ini sangat sejuk sekaligus berpadu dengan keindahan alam pegunungan. Namun minimnya sarana dan prasarana juga mempengaruhi minat wisatawan yang berkunjung kesini. Di seberang sendang Jumprit memang terdapat kolam renang namun dengan kondisi yang kurang terawat. Begitupun dengan lokasi MCK yang ada nampak sedikit kotor dan kurang terjaga kebersihannya. Rumah makan pun tidak tersedia, hanya ada beberapa penjual bakso disekitar sendang Jumprit. Keuntungan lain berkunjung kesini adalah selepas dari Jumprit perjalanan bisa dilanjutkan ke perkebunan Teh Tambi yang indah dan selanjutnya ke dataran tinggi Dieng karena tempat-tempat tersebut merupakan satu arah apabila ditempuh dari arah Jumprit.
Tak banyak orang mengenal eksotisme ala di wilayah perbukitan kota Temanggung. Tak banyak pula yang menaruh perhatian pada penggalan sejarah Jawa Kuno berwujud bangunan dan prasasti, tanda yang senang tiasa mengundang dialog masa lalu. Itulah gerbang utama yang menuju mbul Jumprit, mata air yang disucikan. Air umbul(sendang, mata air)adalah air keberkahan yang diambil para biksu dengan ritual khusus untuk digunakan dala upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur. Umbul yang tak pernah kering ini juga mengisi Sungai Progo.


Berikut adalah pemahaman saya tentang Jumprit. Jika ada yang keliru atau ada yang ditanyakan, kalian bisa berikan masukan atau pertanyaan di kolom komentar. Terima kasih
Senang bisa berbagi cerita 💃

Tidak ada komentar:

Posting Komentar