Apakah kalian tahu bahwa sejarah Jumprit merupakan bagian dari runtuhnya Kerajaan Majapahit💀😎
Jumprit
boleh dikatakan sebagai bagian dari sejarah runtuhnya Majapahit. Karena dari
catatan yang ada, nama Jumprit sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari keberadaan salah satu penasehat Kertabumi (Raja Majapahit yang terakhir)
yaitu Pangeran Singonegoro.
Alkisah
waktu itu, Kerajaan Islam Demak yang diperintah oleh Raden Patah terus melakukan
perluasan daerah termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Majapahit.. Ada yang tunduk
dan ada yang tidak tunduk terhadap kepemimpinan baru di bawah Raden Patah.
Salah satunya adalah Pangeran Singonegoro yang tidak tunduk, sehingga beliau
akhirnya mengasingkan diri ke dataran tinggi di daerah Tegalrejo Kecamatan
Ngadirejo Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Nama
Jumprit sendiri berasal dari salah seorang penduduk Kulon Progo. Cerita
singkatnya adalah ketika itu Ki Jumprit, salah seorang penduduk yang tinggal di
tepi Kali Progo terkena penyakit kulit yang parah dan tidak bisa disembuhkan.
Karena sudah merasa tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya maka Ki
Jumprit berniat mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri. Pada saat itulah
datang wangsit yang memerintahkan agar Ki Jumprit mandi di Sendang yang
berdekatan dengan Makam Pangeran Singonegoro. Dan akhirnya setelah mandi di
sendang tersebut, penyakit kulit yang diderita sembuh dan selanjutnya Ki
Jumprit menjadi juru kunci di tempat tersebut sampai akhir hayatnya. Untuk
menghormati keberadaan juru kunci tersebut maka dinamakanlah sendang tersebut
dengan nama Jumprit sampai sekarang. Sendang tersebut memiliki legenda
tersendiri, menurut Muchtasori pegawai perum perhutani yang menjadi pegawai
disana, sumber mta air tersebut ditemukan oleh Pangeran Singonegoro seorang
penganut agama Hindu Syiwa yang menjadi penasehat spiritual kerajaan Majapahit.
Di penghujung rntuhnya kerajaan Majapahit Pangeran Singonogoro menyingkir
bersama 20 kera yang menjadi pengawalnya. Dalam perjalanannya ia menemukan
sendang atau sumber
mata air, kemudian ia bertapa disana. Dalam
pertapaannya itu ia menjadi seorang Brahmana dan mendapat julukan Panembahan
Ciptaning. Setelah meninggal dunia ia dikuburkan disana termasuk istrinya yang dianggap
keturunan Tionghoa. Adapula cerita lain mengnai ikhwal keyakinan bahwa air
sendang Jumprit dipercaya dapat menyembuhakan penyakit. Saat ini masih banyak
orang yang datang ke Jumprit untuk kungkum
atau membawa pulang airnya. Katanya air tersebut bisa menyembuhkan mereka
dari penyakit. Selain itu ada juga yang memiliki keinginan bisa terwujud kalau
berendam di sendang pada malam hari.
Hingga
saat ini sendang Jumprit dijaga oleh 20 ekor kera, yang dipercaya sebagai Ki
Dipo atau Hanoman Putih. Konon jumlah kera-kera itu tidak pernah berkurang
ataupun bertambah. Kalau ada kelahiran baru, kera dewasa akan menyingkir dan
menghilang. Binatang tu berkeliaran di pepohonan sekitarnya.
Untuk
menuju ke tempat ini tidaklah terlalu sulit, karena hanya berjarak sekitar
kurang lebih dua puluh enam kilometer dari Kota Temanggung arah Ngadirejo.
Jalan menuju tempat ini dari Temanggung juga terbilang bagus, namun
berkelok-kelok dan turun naik seperti pada umumnya kontur jalan pegunungan.
Karena sejarahnya tersebut banyak orang yang berkunjung kesini untuk
mendapatkan khasiat air sendang jumprit untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Namun diluar itu semua dengan segala kekurangannya tempat ini memang layak
dikunjungi untuk sekedar menikmati suasana khas pegunungan atau melepas
kepenatan selepas melakukan rutinitas sehari-hari. Puluhan monyet yang menurut
sejarahnya adalah keturunan Ki Dipo juga bisa kita saksikan bergelantungan di
pohon maupun yang bermain-main disekitar lokasi parkir mobil.
Berada
diketinggian sekitar delapan ratus meter di atas permukaan air laut di salah
satu sisi Gunung Sindoro menjadikan tempat ini sangat sejuk sekaligus berpadu
dengan keindahan alam pegunungan. Namun minimnya sarana dan prasarana juga
mempengaruhi minat wisatawan yang berkunjung kesini. Di seberang sendang
Jumprit memang terdapat kolam renang namun dengan kondisi yang kurang terawat.
Begitupun dengan lokasi MCK yang ada nampak sedikit kotor dan kurang terjaga
kebersihannya. Rumah makan pun tidak tersedia, hanya ada beberapa penjual bakso
disekitar sendang Jumprit. Keuntungan lain berkunjung kesini adalah selepas
dari Jumprit perjalanan bisa dilanjutkan ke perkebunan Teh Tambi yang indah dan
selanjutnya ke dataran tinggi Dieng karena tempat-tempat tersebut merupakan
satu arah apabila ditempuh dari arah Jumprit.
Tak
banyak orang mengenal eksotisme ala di wilayah perbukitan kota Temanggung. Tak
banyak pula yang menaruh perhatian pada penggalan sejarah Jawa Kuno berwujud
bangunan dan prasasti, tanda yang senang tiasa mengundang dialog masa lalu.
Itulah gerbang utama yang menuju mbul Jumprit, mata air yang disucikan. Air
umbul(sendang, mata air)adalah air keberkahan yang diambil para biksu dengan
ritual khusus untuk digunakan dala upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur.
Umbul yang tak pernah kering ini juga mengisi Sungai Progo.
Berikut adalah pemahaman saya tentang Jumprit. Jika ada yang keliru atau ada yang ditanyakan, kalian bisa berikan masukan atau pertanyaan di kolom komentar. Terima kasih
Senang bisa berbagi cerita 💃


Tidak ada komentar:
Posting Komentar