Minggu, 11 Maret 2018

#AyoMenulisCerpen NAMAKU LARASATI





AKU TERLIBAT HUBUNGAN YANG SANGAT RUMIT. SULIT DIPAHAMI. SEPERTI MIMPI NAMUN TERASA SANGAT NYATA.

“Bosan, rasanya bosan,” kata Larasati.
“Itu saja yang kau katakan mbak, hampir tiap hari aku mendengarnya,” sahut Ratna adik perempuan Laras yang terlihat kesal mendengar keluhan-keluhan laras setiap harinya.
            “Ya apa kamu ndak bosen Na, aku ingin melihat kota dan hidup disana. Banyak hiburan dan banyak tempat yang bisa aku kunjungi disana,” ujar Larasati.
            Lah sak karepmu mbak, disini memang desa tapi lak yo gak ketinggalan zaman toh” Ratna mulai bosan dengan pembicaraan Larasati dengan kegairahannya akan hidup di kota dan kemauan untuk menetap disana.
            Sepanjang jalan pulang menuju rumah pembahasan kedua kakak beradik ini adalah tentang ambisi kakaknya yang ingin pergi ke kota. Jarak yang dtempuhnya cukup lama setelah kegiatan pentas tari mereka dari desa sebrang. Suasana yang akhirnya menjadi hening karena sang adik memilih jalan terlebih dahulu dan membiarkan kakaknya berimajinasi. Selama lebih dari satu jam berjalan kaki dan tibalah mereka di rumah yang hanya disambut oleh Sang Nenek. Ayah mereka merupakan seorang Walikota yang kadang enggan untuk pulang ke rumah karena alasan pekerjaan, sedangkan ibunya meninggal dunia setelah melahirkan Ratna.
            “Gimana nduk tadi pentasmu?” tutur Nenek kepada kedua cucuya tersebut.
            “Siplah, hanya saja dia mulai menggila nek tentang impiannya itu,” jawab Ratna dengan menunjuk kakaknya yang sedang berbenah pakaian. Namun Laras hanya melotot dan membiarkan aduan Ratna kepada Nenek.
Hari demi hari berlalu seperti kehidupan pada umumnya. Sampai pada akhirnya adanya kejanggalan yang menimpa Larasati setelah bangun tidur. Dia sama sekali tak mengenali tubuhnya itu, keberadaannya di dalam kamar perempuan yang penuh dengan pernak-pernik feminim, daster yang dikenakannya, rambut panjang yang tergerai sampai pundak, sampai pada kejanggalan yang ada di dadanya.
            “Dadaku tumbuh!!!”
Bergegas ia mencari sebuah benda yang dapat memperlihatkan dirinya. Cermin. Dia mencari cermin untuk memastikan siapa dia sebenarnya. Seolah ini adalah mimpi ia melihat sosok perempuan dalam cermin itu adalah dirinya. Betapa dibuatnya bingung. Jakun yang ia miliki di lehernya seolah menghilang, semua yang ada pada dirinya juga menghilang.
            “Aku berubah perempuan!!!”
Sama halnya yang dialami oleh Nawang. Perempuan itu pun dikejutkan dengan dirinya yang berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang laki-laki. Laras ada pada tubuh Nawang dan Nawang ada dalam tubuh Laras. Bagimana mungkin mereka bisa bertukar tubuh sedang mereka tidak mengenal satu sama lain.
            “Ini keren, benar-benar keren! Jadi laki-laki ini tinggal di kota sebagaimana yang diinginkan olehku,” ia berkata sepanjang jalan ke sekolah sambil menikmati apa yang selama ini ia bayangkan. Hiruk pikuk kota, kebisingan, kemacetan, polusi udara, dan keramaian.
Kembali ke tubuh Larasati, dimana ia masih bingung dengan hidupnya yang sekarang. Rambut yang biasa dikucir dengan rapi, namun kini dibiarkan bergerai begitu saja. Teman-temannya di sekolah pun merasa aneh pada Larasati yang sekarang karena sifat tomboynya, keberanian, dan banyak lagi kekacauan setelah jiwa mereka tertukar.
Lama-lama mereka akhirnya paham dengan ketentuan yang ada setelah mereka bertukat jiwa. Tidak setiap hari namun berselang ketika salah satunya memikirkan dunia yang ada pada tubuh yang ia kunjungi. Itu pun berlaku saat mereka terjaga pada tidur di malam hari dan keesokannya mereka bertukar tubuh. Pada akhirnya mereka pun tahu tugas dari tubuh masing-masing dan juga mulai mengetahui nama serta informasi apa saja yang harus dilakukan saat bertukar tubuh dari pemilik tubuh itu dengan meninggalkan jejak entah itu di buku pelajaran, caatatan di ponsel bahkan sampai mencorat-coret tubuh itu. Semua itu akhirnya menjadi hal biasa bagi Nawang dan Laras. Mereka mengetahui keberadaan masing-masing dengan bertukar tubuh tanpa ada satupun yang mengetahuinya.
“Namaku Larasati, siapa namamu?” begitulah yang tertulis pada lengan Nawang menggunakan spidol tinta permanen.
***
            “Apa yang sebenarnya terjadi?” disambung helaan nafas panjang Nawang dengan tubuh aslinya. Ia bertanya-tanya mengapa sosoknya menjadi Larasati kini tak ada lagi. Sudah satu bulan lamanya ia tetap pada tubuh aslinya. Rasa penasaran yang kerkecamuk dalam hatinya membuat ia tergerak untuk mencari sosok Larasati pada kehidupan nyata. Ia bahkan berusaha mengingat apa yang dilakukannya ketika ia berada dalam tubuh Larasati. Ketika ia ingat bahwa Larasati tinggal pada suatu desa bernama Desa Pleret ia langsung bergegas pergi mencarinya dengan meninggalkan kehidupannya yang ada di kota.
            “Ya tak salah buatku untuk mencarinya,” gumam Nawang yang saat itu ditemani kedua temannya untuk bertemu Larasati. Temannya berpikir bahwa Nawang hanya sebatas bermimpi namun mereka beranggapan bisa saja sosok Larasati ini nyata pada dunia dimana mereka ini tinggal. Berjalan, kemudian menaiki berbagai kendaraan seperti kereta dan bus. Sampailah pada suatu wilayah dimana tak ada seorang pun yang tahu desa yang telah digambarkan oleh Nawang. Tak membuatnya putus asa, ia terus mencari berhari-hari. Sampai pada akhirnya seorang temannya beranggapan bahwa itu hanyanlah sebuah mimpi dan Nawang terlalu mengambil hati. Berbagai masukan yang temannya berikan pada Nawang dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang pada keesokan harinya.
            Disuatu tempat makan saat mereka berjalan pulang ia menemukan sesuatu yang sama persis yaitu gambar peta dimana Larasati tinggal. Tanpa ragu ia menanyakan pada pemilik tempat makan tersebut. Semua itu menggugurkan bahwa Larasti bukanlah sebatas mimpi namun ia benar-benar ada dan hidup di dunia yang sama. Namun terkejutlah ia setelah informasi yang ia dapat dari si pemilik tempat makan. Untuk membuktikan bahwa yang dikatakan pemilik tempat makan benar, Nawang diantar ke tempat yang ia cari selama ini untuk bertemu Larasati. Naas, tempat tinggal Larasati sudah lenyap yang sampai saat ini dipercaya penduduk sekitar sebagai tanah ambles karena kejadian gempa. Kemudian Nawang teringat akan kejadian tiga tahun lalu dimana ia sebenarnya sudah tahu kejadian itu melalui siaran di televisi.
            Siapakah sosok Larasati yang dikenal Nawang saat itu merupakan tanda tanya besar bagi dirinya. Namun ia tetap yakin dengan apa yang belakangan ini yang ia alami bukanlah sekedar mimpi bunga tidur atau mimpi- mimpi belaka. Bagaimana mungkin mimpi bisa senyata itu yang membuat Nawang bisa sampai jatuh cinta dengan sosok yang menjadi temannya bertukar tubuh. Bagaimana mungkin.

Jumat, 01 Desember 2017

#INFOdanPengetahuan Hajad Kawula Dalem Kota Yogyakarta

Berbicara mengenai tradisi yang ada di Indonesia tidak akan pernah ada habisnya. Indonesia merupakan negara multikultural. Negara yang kaya akan sumber daya, budaya, tradisi, pakaian adat, rumah adat, bahkan sampai ke lagu daerah. Salah satu dari sekian banyak budaya dan tradisi yang ada di Indonesia terdapat di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Provinsi D.I.Y tidak hanya terkenal sebutannya sebagai kota pelajar, tetapi juga dengan budaya dan tradisi yang masih sangat kental. Provinsi yang dipimpin oleh Gubernur yang biasa disebut dengan Sultan.
Google.com
Tradisi Hajad Kawula Dalem merupakan tradisi sekaligus budaya yang masih dipegang erat keberadaannya di Kota Yogyakarta. Hajad Kawula Dhalem biasanya diperingati pada bulan Suro dalam kalender Jawa, tepatnya pada tanggal awal bulan Suro yaitu tanggal 1 Suro. Tradisi Hajad Kawula Dalem biasanya dilakukan di alun-alun Utara, kemudian dilanjutkan dengan berjalan menuju Benteng Van De Burg kemudian mengelilngi benteng tersebut, masyarakat Kota Yogya biasa menyebutnya dengan Ritual Mubeng Benteng.
“Acara Hajad Kawula Dalem ini memang sudah terlaksana sejak dahulu Mbak, sudah menjadi tradisi dan rutin setiap awal bulan Suro tanggal 1, acaranya dimulai dengan ritual terlebih dahulu yang dilakukan di dalam keraton oleh Sultan dan para Abdi Dhalem, kemudian pemasangan Pathok di tengah alun-alun sebagai penanda untuk diadakannya Sekaten.” Tutur Ibu Kanut Sutanto . “Namun, untuk dua tahun berturut-turut ini tradisi Hajad Kawula Dalem tidak terlaksana mbak, baru dimulai tahun ini, biasanya rutin, nggak tahu karena apa.” Lanjut penuturan wanita 68 tahun itu.
Menurut pendapat Bapak Wachid Eko Purwanto salah satu dosen sastra Universitas Ahmad Dahlan, menurut Sejarah tradisi mubeng beteng paling tidak memiliki dua sudut pandang. Sudut pandang pertama, bermula sebagai bagian dari tradisi Jawa yang berkembang pada abad ke-6 sebelum munculnya kerajaan Mataram-Hindu. Dalam tradisi Jawa dikenal dengan istilah muser atau munjer. Dua kata ini memiliki arti aktivitas mengelilingi pusat. Pada zaman dulu, pusatnya adalah pusat desa. Manakala sebuah wilayah berkembang menjadi keraton, muser atau munjer ini diteruskan menjadi menjadi tradisi kraton. Kawula Dalem beraktivitas mengelilingi pusat keraton. Adapun sudut pandang kedua menyebutkan bahwa sejarah Mubeng Beteng  merupakan tradisi Jawa-Islam. Tradisi ini dimulai pada masa kerajaan Mataram Islam yang awalnya berdiri di Kotagede, Yogyakarta. Keraton Mataram Islam ini selesai dibangun pada tanggal 1 Suro 1580. Pada saat itulah tradisi mubeng beteng dimulai. Para prajurit keraton berjaga dari serangan musuh – waktu itu dari kerajaan Pajang – dengan cara  mengelilingi benteng kraton. Selanjutnya pada masa damai, tugas keliling beteng dialihkan kepada para abdi dalem keraton. Para abdi dalem keraton ini keliling beteng sambil berdzikir dan berdoa untuk keselamatan dan kejayaan keraton.
“Relasi mubeng beteng dengan zaman sekarang tentu tidak jauh dari sejarahnya. Sebagai bagian dari ikhtiar menjaga keamanan dan keselamatan serta refleksi diri. Mendekatkan diri kepada Allah dengan berdzikir dan berdoa. Maka tapa bisu yang menyertai tradisi mubeng beteng lebih bersifat spiritual dari pada hanya sekedar pelarangan tidak boleh berbicara. Tentu tradisi ini masih relevan dilakukan pada masa sekarang, dan makna yang dapat ditafsirkan dari Mubeng Benteng sebagai bentuk perenungan. Orang Jawa menyebut sebagai tirakat. Tirakat berasal dari bahasa Arab tariqah yang berarti jalan. Dalam bahasa Jawa sering disebut dengan lelaku. Tariqah dan lelaku ini bermuara  pada pepatah Jawa yang berbunyi ilmu iku kalakone kanthi laku. Yang terjemahan bebasnya dapat diartikan ilmu itu tercapai karena dilaksanakan. Maka laku mubeng beteng ini dapat dimaknai sebagai bagian dari laku untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memohon kebaikan pada Tuhan.” Tutur dosen yang gemar meneliti naskah-naskah kuno tersebut.
Tradisi Hajad Kawula Dalem di Kota Yogyakarta tidak hanya diikuti oleh warga asli Kota Yogyakarta saja, melainkan siapapun bebas mengikuti acara tersebut tidak terkecuali wisatawan lokal maupun mancanegara yang sedang berkunjung di Kota Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya seluruh orang yang terlibat di tradisi Hajad Kawula Dalem tidak boleh bersuara atau yang biasa disebut dengan Tapa Bisu.
“Tradisi Hajad Kawula Dalem ini unik ya mbak, apalagi Jogja kota yang terkenal dengan berbagai macam tradisi. Saya dari sengaja dari Banjarnegara langsung ke sini untuk menyaksikan acara Hajad Kawula Dalem, datang bersama anak dan suami.” Jawab wisatawan asal Banjarnegara.
Pelaksanaan tradisi Hajad Kawula Dalem pemerintah Koya Yogyakarta banyak melibatkan berbagai pihak, termasuk untuk keamanan jalannya acara. Pihak keamanan yang terlibat dalam tradisi Hajad Kawula Dalem seperti Polisi Kota Yogyakarta sebagai pihak keamanan primer dan orang-orang Abdi Dhalem yang dipercaya untuk ikut mengamankan jalannya acara tersebut.
“Sejauh kami ikut serta dalam pengamanan tradisi Hajad Kawula Dalem tidak ada kendala yang berarti mbak, semua aman-aman saja berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Semua yang terlibat selalu menjaga ketertiban selama tradisi berlangsung, kami dari pihak kepolisian menerjunkan sekitar 200 personil untuk pengamanan acara Hajad Kawula Dalem ini.” Jawab Pak Bambang selaku wakil dari pihak kepolisisn Kota Yogyakarta.
Tradisi Hajad Kawula Dalem ini sejatinya mempunyai makna sebagai untuk selalu ingat kepada Tuhan yang telah memberikan banyak kenikmatan dan Suro yang dalam kalender Jawa berarti Eling yang mempunyai makna sebagai  bentuk perenungan kepada manusia yang harus tetap ingat siapa dirinya dan apa kedudukannya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Picture by Google.com
Artikel by Diah Rahma, Nur Fitriyana, Aditiyas Tanjung, Risti Luluk

Selasa, 21 November 2017

Analisis Drama


“SEPASANG MERPATI TUA”
Karya : Bakti Soemanto

1. Unsur Intrinsik
            a. Tema
Tema dari Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto yaitu keinginan atau harapan untuk mendapatkan kesejahteraan hidup. Hal ini dibuktikan dalam pernytaan tokoh:
Kakek  : “Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk….”
Kakek  : “Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya…”
b. Tokoh dan penokohan
Tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu:
J Tokoh utamanya, yaitu Nenek. Ia adalah tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
J Tokoh Tambahannya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung.
J Tokoh protagonisnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh yang baik dan pembangun alur dalam  cerita.
J Tokoh antagonisnya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang yang memberi konflik pada tema dan memiliki kehendak yang berlawanan dengan Nenek.
Penokohan dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu:
J Nenek, seorang wanita yang baik, manja, pengkritik, cengeng, pemberani, gengsi, dan peduli. Kebaikannya ia tunjukan ketika ia mau mendengarkan kata-kata Kakek walaupun ia selalu tidak memahami arti dari kata-kata Kakek, tetapi ia pun mendukung si Kakek untuk memenuhi keinginannya dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat disekelilingnya. Sikap manjanya ia tunjukan ketika ia berdiri menghampiri Kakek dan duduk disebelahnya. Sikap pengkritiknya ia tunjukan pada saat ia selalu menyela dan mengkritik segala ucapan Kakek. Sikap cengengnya ia tunjukan pada saat ia menangis karena tersinggung mendengar kata-kata Kakek yang mengatakan bahwa “Mengaku dosa didepan orang banyak”, serta menangis pada saat Nenek melihat Kakek rebah tak berdaya karena terlalu banyak bicara.
J Kakek, seorang lelaki yang baik, bijaksana, bergaya, pemalu, peduli, pemuji, pengkritik, percaya diri, dan semangat tingkat tinggi. Kebaikannya ia tunjukan dalam jiwanya  yang tertanam nilai-nilai kemanusiaan yang begitu kuat, ia ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengubah pola pikir serta konsep yang tidak mengutamakan masyarakat menjadi orang yang lebih baik. Kebijaksanaannya ia tunjukan ketika ia mau mendengarkan nasehat istrinya dengan penuh lapang dada dan dengan kebijaksanaanya pula ia menerima segala keluhan-keluhan istrinya.
c. Dialog
Nenek  : (Bicara sendiri). “Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak    ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…”(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
Kakek  : (Masuk). “Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?”
Nenek  : “Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?”
Kakek  : “Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran.”
Nenek  : “Mengapa membaca koran harus pakai kopyah segala?”
Kakek  : “Agar komplit, Bu”
...........
                        Kutipan di atas disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh Nenek dan Kakek.
d. Alur
Alur dari drama Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto adalah;
J Eksposisi (Pelukisan awal)
Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.
J Konflik
Kakek  : “Mengaku dosa di depan orang banyak!”
Nenek  : “Hu…hu…hu…” (Menangis)
 Kakek  : “He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanya?”
 Nenek  : “Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu…”
Kakek  : “Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.”
Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk pada tahap konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa Nenek merasa di ejek/di olok-olok oleh Kakek dengan kata-kata “Mengaku dosa di depan orang banyak”, hingga membuatnya menagis dengan kata-kata tersebut.
J Koplikasi (pertikaian)
Cerita perdebatan antara Nenek dan Kakek tentang jabatan yang ingin dicapai oleh Kakek. Dimulai dengan keinginan Kakek yang ingin menjadi profesor tetapi ditentang oleh Nenek yang lebih mengizinkan Kakek untuk menjadi diplomat dan Kakek pun menerima saran Nenek demi menyelamatkan perkawinan mereka. Dan ceritanya dilanjutkan dengan keinginan Kakek yang ingin pindah jabatan dari diplomat menjadi teknokrat.
J Klimaks (puncak ketegangan)
 Cerita mencapai puncaknya pada saat Kakek berbicara dengan penuh semangat hingga ia tidak dapat mengontrol bicaranya sendiri yang membuat penyakit napasnya kambuh kembali. Peringatan Nenek tidak didengarnya karena semangatnya tersebut. Karena semangatnya yang terlalu berlebihan, hingga membuatnya rebah dan membuat Nenek menjerit dan menangis.
J Peleraian
 Kakek  : “Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek). Mengapa kau menangisi aku, tangisilah dirimu sendiri.”
Nenek  : “Kau masih hidup…?”
Kakek  : “Aku tidak begitu yakin, selama aku terbelenggu oleh doktrin. Aku hanya mengerti, apa aku hidup atau tidak, kalau aku menghayati hidupku sendiri….”
Nenek  : “Tetapi kau berbicara, kau bernapas….”
Kakek  : “Bukan itu ukuran adanya kehidupan….”
 Cerita ini dileraikan dengan bangkitnya Kakek dari rebahnya dan penjelasan Kakek kepada Nenek tentang arti kehidupan yang sebenarnya.
J Penyelesaian
 Cerita ini diselesaikan dengan bunyinya lonceng jam dinding dua belas kali untuk yang kedua kalinya yang membuat Nenek heran, dan penjelasan lebih lanjut oleh Kakek tentang kehidupan bahwa kebiasaan, ukuran, dan konep tidak terlalu cocok untuk hidup manusia. Dan juga masih menyisahkan pertanyaan tentang bagaimana cara mengerti kahidupan. Cerita ini pun berakhir happy ending karena Kakek kembali tersadar dari perebahannya dan bersatu kembali dengan Nenek.
e. Latar/setting
 Latar dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto ini terbagi tiga dua jenis, yaitu:
1) Latar tempat
J Ruangan tengah rumah, tempat Kakek dan Nenek duduk berbincang-bincang. “Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua.”
J Sofa, tempat Kakek duduk membaca Koran dan tempat Nenek menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek.
Kakek    : (Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka lembarannya)” dan pada kutipan
Nenek    : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan   kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
2) Latar waktu
 J Menjelang malam hari, waktu Kakek dan Nenek berbincang-bincang.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok   ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam.
 J Empat puluh tahun yang telah lampau, waktu Kakek menjadi juru tulis.
  J Delapan puluh tahun, waktu Nenek menjalani kehidupan.
 Nenek    : Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti.
 3) Latar suasana
 J Jengkel, perasaan Nenek kepada Kakek karena selalu bersolek dengan memakai kopiah ketika membaca koran.
J Romantis, suasana ketika Nenek duduk di samping Kakek sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kakek sebelah kiri.
Nenek    : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
 J Berdebat, sikap Nenek dan Kakek  yang memperdebatkan jabatan menjadi profesor, diplomat, dan teknokrat.
f. Amanat
Amanat dari drama Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto, yaitu:
Jika kita memiliki jabatan tertentu, maka manfaatkanlah jabatan tersebut dengan sebaik-baiknya demi kepentingan diri sendiri dan orang lain dan Hargailah tiap kehidupan yang diperoleh, karena kehidupan yang telah diperoleh sebelumnya tidak akan pernah kembali lagi.


2. Unsur Ekstrinsik
Nilai-nilai yang terkandung dalam drama Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto, yaitu:
  a. Nilai sosial budaya
                      Nilai sosial-budaya terletak pada niat Kakek yang ingin menjadi diplomat kolong jembatan untuk membantu orang-orang yang tinggal di kolong jembatan agar mau hidup baik-baik dengan berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak dan menimbulkan kepercayaan diri sendiri. Juga dapat dilihat pada niat Kakek yang ingin menjadi Teknokrat di bidang persampahan demi mencegah terjadinya banjir.
            b. Nilai moral
                      Nilai moral teletak pada sikap Kakek yang bijaksana dalam menanggapi segala sikap Nenek terhadapnya. Juga pada sikap Kakek yang peduli terhadap sesama dengan memperhatikan kehidupan orang-orang yang hidup di kolong jembatan dan niat Kakek untuk membersihkan sampah-sampah demi mencegah terjadinya banjir yang dapat merugikan banyak orang. Serta, teletak pada sikap Nenek yang peduli terhadap Kakek dengan jabatan yang ingin diraihnya dan sikap pedulinya terhadap kondisi Kakek.
            c. Nilai agama
                      Nilai agama terletak pada perkataan Nenek dengan membawa nama Tuhan dalam menentukan jenis diplomat yang harus diambil oleh Kakek. Serta terletak pada niat Kakek yang ingin membersihkan sampah-sampah yang menumpuk di selokan, sebab dalam agama menyatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.
            d. Nilai ekonomi
                        Nilai ekonomi terletak pada kehidupan Kakek dan Nenek yang hidup sederhana dengan menikmati hidangan apa adanya, serta dengan perabotan rumah yang mulai lusuh. “Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasa
ng orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.”

Senin, 20 November 2017

Analisis Cerpen

 “Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi” Karya Kuntowijoyo dengan Pendekatan Mimetik

            Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi karya Kuntowijoyo merupakan cerpen yang secara rinci dan tegas mengangkat permasalahan kehidupan manusia dari aspek sosial dan politik. Isinya berifat faktual empiris imajinatif, yaitu berisi fakta-fakta bedasarkan pengalaman hidup sang pengarang yang dikemas dengan tambahan imajinatif dalam bentuk penyusunan bahasanya. Kemasan bahasanya memudahkan siapa saja yang membaca dan mengkajinnya. Bedasarkan hal-hal tersebut perlu adanya menganalisis perilaku tokoh cerpen dengan kajian mimetik. Pendekatan mimetik merupakan pendekatan yang mengkaji karya sastra berkaitan dengan realitas atau kenyataan. Dalam pandangan mimetik, karya sastra tidak mungkin dapat dipahami tanpa mengkaitkannya dengan semesta sebagai simber penciptanya. Sastra disini dimaksudka sebagai cerminan dari masyarakat.
Hubungan antara cerpen Pelajaran Pertama Bagi Calon Politisi dengan dunia nyata terdapat pada bagian awal cerita yang menjelaskan bahwa kisah pada cerpen tersebut benar adanya pada pemerintahan Presiden Soeharto dan Pangkopkamtib yang dipegang Sudomo. Oleh Kuntowijoyo digambarkan pada peristiwa tingkat desa di pinggir kota Jogjakarta. Ceritanya dimulai dari Sutarjo (37 tahun) seorang pengusaha konveksi mencalonkan diri menjadi kepala desa atau lurah di desanya. Pesaing terkuatnya adalah mantan seorang kapten TNI yang baru saja pensiun.
Orang tua Sutarjo pernah terlibat dalam gerakan G30S/PKI sehingga dia dianggap tidak “bersih lingkungan”. Latar belakang orang tuanya inilah yang menyebabkan dia harus “membersihkan lingkungan” dengan cara mencari dukungan dari seorang anggota DPRD perwakilan partai Golkar yang dulunya Ketua Masjumi dan Ketua MDI dan mengunjungi kuburan kakeknya yang dulu pernah menjadi lurah dan terkenal pemurah, rendah hati, suka menolong, dan sakti mandraguna. Dalam kajian mimetik adanya perilaku lobi politik yang dilakukan oleh Sutarjo merefleksikan bahwa politisi dalam dunia nyata membutuhkan orang atau pihak lain dalam rangka menyukseskan programnya atau apa yang diinginkan. Hal tersebut biasa dilakukan oleh politikus pada zaman dulu sampai sekarang. Kemudian pada waktu itu anak-anak mantan pengikut G30S/PKI tidak akan diangkat menjadi PNS atau pejabat apapun maka dalam cerita disebut tidak bersih lingkungan. Sutarjo mengandalkan nama keluarganya, perilaku ini juga merefleksi perilaku dalam dunia nyata yaitu seseorang yang tidak yakin pada kemampuannya sendiri akhirnya mengandalkan pihak lain diantaranya keluarga.
Tokoh Sutarjo berkeinginan dirinya dikenal dan didukung oleh masyarakat dalam pemilihan lurah dengan cara mengadakan berbagai kegiatan antara lain tahlil, yasinan, dan pengajian akbar walaupun ia sendiri pengikut paham Muhammadiyah yang tidak menganjurkan para pengikutnya mengadakan acara tahlilan atau yasinan. Bedasarkan pendekatan mimetik perilaku ini merefleksikan perilaku pejabat yang suka tebar pesona menjelang pilkada atau pilpres ataupun setelah pejabat tersebut jatuh dan akan bangkit lagi dengan kata lain untuk merehabilitasi nama baik.

Pesaing dari Sutarjo menggunakan strategi taktik yaitu mengundang tayub untuk berjoget bersama penduduk dan money politics dengan para pemilih dan panitia pencatat akan mendapat imbalan sepatutnya. Rapi, jali, halus, dan tak bisa bocor. Setelah mengitungan suara ternyata Sutarjo kalah telak karena money politics yang dimainkan oleh lawannya. Perilaku money politics ini merefleksi bahwa politik terutama di negeri ini tidak dapat terhindar dari uang. Maka tak khayal bila pemerintahan yang ada kebanyakan terlibat kasus korupsi karena pada masa kampanye saja sudah berani bermain dengan uang apalagi setelah menduduki posisi yang dibanjiri dengan uang. Pada kenyataannya siapa yang masuk ke dalam dunia politik kebanyakan mereka yang menang memang menggunakan strategi yang diterapkan pada lawan dari tokoh Sutarjo.

Sabtu, 18 November 2017

CERPEN Pengunyah Sirih



Mulut Sukro senantiasa memerah. Bibir, gigi, dan lidah lelaki setengah baya itu mengundang perhatian orang lantaran memerah. Ludahnya merah segar. Kebiasaannya mengunyah sirih, sebagaimana dilakukan para wanita zaman dulu, membekaskan warna memerah di mulutnya. Tapi menjelang dini hari, di bawah pohon trembesi, bukan hanya mulutnya yang memerah. Sekujur tubuhnya memerah, melelehkan darah. Luka-luka tubuhnya menganga. Darah mengucur kental, merembes di berbagai bagian tubuh dan wajah.
Tak lagi terdengar Sukro mengerang. Orang-orang kampung berhenti melampiaskan kemurkaan: menganiayanya dengan kayu, batu, dan senjata tajam. Tubuh Sukro terkulai. Seseorang memeriksa detak nadi lelaki setengah baya itu. Tak berdenyut. Tubuhnya tak bergerak. Tapi kebencian orang padanya masih tersungkup sumpah serapah, ”Ayo, tampakkan kesaktianmu, Sukro! Mana buktinya kalau kamu kebal? Hiduplah kembali!”
Seekor sapi yang dicuri Sukro berdiri di dekat pembantaian tubuh lelaki setengah baya itu. Pemilik sapi diam-diam meninggalkan bawah pohon trembesi, menjauhi lelaki-lelaki beringas pembantai Sukro. Menuntun sapinya, mencari jalan setapak pulang. Orang-orang lain mengikuti jejaknya. Keriuhan orang di bawah pohon trembesi, dekat kuburan tua, dalam gelap dini hari, surut seketika. Senyap. Udara yang murni, segar, mengapungkan anyir darah yang meleleh di sekujur tubuh Sukro.
Tinggal tubuh Sukro—pencuri ternak itu—yang tergeletak di bawah pohon trembesi, dekat kuburan tua dengan makam keramat di atasnya. Di sekelilingnya terserak potongan kayu, bambu, batu-batu, dan ceceran darah di rerumputan gersang. Tak ada gerak. Tak ada napas. Angin mati. Begitu cepat orang-orang menelusuri jalan setapak di rerumputan, melintasi lereng bukit cadas yang tandus, keras, dan senantiasa dikeruk buldoser, diangkat dengan truk ke daerah-daerah yang jauh sejak fajar rekah, sepanjang cahaya matahari tercurah ke bumi hingga jauh larut malam.
Masih terlentang tubuh Sukro, melelehkan darah kental. Dari liang-liang luka, darah merembes. Di tempatnya tergeletak, orang-orang tak menyisakan jejak pembantaian. Seekor sapi yang dicuri Sukro telah dibawa pulang pemiliknya, jauh meninggalkan kuburan tua dan makam keramat di sisi bukit cadas yang hampir rata dengan tanah.
Dari kejauhan Pak Lurah memandangi pembantaian Sukro. Membuang muka. Geram. Tak mau terlibat. Buru-buru meninggalkan kuburan tua dan daerah bukit cadas yang digempur. Mencari jalan pulang. Tak ingin dilihat orang.
***
Tubuh Sukro merasakan getar panas telaga api tanpa tepi. Tubuh-tubuh serupa bayangan, tinggi besar, menyeret tubuhnya yang ringan ke telaga api. Menyiksanya. Mengayun-ayun tubuhnya, hendak menceburkannya ke telaga api. Sukro berteriak-teriak. Meronta-ronta. Tapi lelaki-lelaki bertubuh bayangan itu menyekapnya paksa. Lidah api yang terjulur-julur, serupa debur ombak mengisap tubuhnya. Cahayanya berkilau-kilau dengan warna merah besi berkarat, pekat panas, menyerap tubuhnya untuk menyatu ke dalamnya.
Membebaskan diri dari gelombang api yang menjalar, Sukro beringas. Ketakutan, Sukro meronta dari sekapan lelaki-lelaki bertubuh bayangan, tinggi besar, yang memburunya. Menjauhi telaga api. Menghindari siksa. Memasuki kembali tubuhnya yang terkapar di bawah pohon trembesi. Ia terbangun, merintih, menggeliat pedih memandangi kuburan tua. Tak bisa menggerakkan sekujur tubuhnya. Lumpuh. Tanpa kekuatan. Terus merintih. Tubuhnya pedih. Tubuh yang tak berbentuk. Tubuh yang remuk. Hanya suara rintihannya yang terdengar lirih. Napas tersengal. Mata berkedip-kedip.
Tak seorang pun mendengar suara rintihan Sukro, ketika pagi rekah. Deru alat berat mengeruk tanah mulai meratakan bukit cadas di sisi kuburan tua. Gemuruh. Truk-truk tanpa muatan berdatangan dan meninggalkan bukit cadas dengan sarat beban batu cadas. Deru truk menenggelamkan suara rintihan lelaki setengah baya itu.
***
Lelaki muda buta itu baru saja selesai memijat Pak Lurah, melintasi jalan setapak di celah bukit cadas dan kuburan tua. Ia mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan yang akan dilaluinya. Telinganya yang peka mendengar suara rintihan seseorang yang tergeletak di rerumputan dekat kuburan tua. Lelaki muda buta itu mencari sosok tubuh yang merintih dengan ujung tongkatnya. Berjongkok. Meraba tubuh Sukro yang berlumur darah. Ia membersihkan darah yang meleleh, memijat sekujur tubuh Sukro, bergemeretak tulang-tulang yang patah diluruskannya.
”Sirih, sirih,” rintih Sukro. Lelaki buta itu usai sudah memijat sekujur tubuh Sukro, yang disangka telah mati. Terdengar Sukro meminta sirih. Lelaki pemijat itu pulang. Memetik daun-daun sirih. Kembali lagi dia dan memberikannya segulung daun sirih untuk dikunyah-kunyah lelaki setengah baya yang terkapar itu.
Menahan nyeri tubuh, lelaki setengah baya yang hampir sekarat itu bisa mengunyah-ngunyah daun sirih, pelan, sesekali terhenti. Tidak sampai lumat. Masih tampak sebagai lembaran-lembaran daun sirih yang lentur. Ia meminta lemah, ”Tempelkan daun sirih ini pada luka-lukaku.”
Terus-menerus Sukro mengunyah daun sirih. Tidak lumat benar. Lembar-lembar daun sirih yang lembek setelah dikunyahnya, dilekatkan lelaki buta pada sekujur tubuh yang menganga luka. Lelaki buta itu selesai menempel lembar daun sirih lembek ke liang-liang luka di tubuh Sukro. Ia tersenyum tenang setelah tak terdapat lagi liang luka yang dibiarkan mengucurkan darah.
Lelaki buta pemijat itu bimbang sejenak. Merenung. Dan ia memutuskan untuk meninggalkan Sukro berbaring sendirian di bawah pohon trembesi. Ia menjenguk lelaki setengah baya yang terkapar itu pada sore hari. Mengantar makan, minum. Tapi Sukro masih belum bisa menelan makanan. Ia meminta minum. Hari kedua barulah lelaki yang terluka parah itu bisa makan beberapa suap. Hari ketiga ia bisa bergerak lebih leluasa. Hari keempat ia tergagap-gagap bangun. Hari kelima ia berdiri tertatih-tatih. Hari keenam ia berjalan terseret-seret. Hari ketujuh ia meninggalkan pohon trembesi.
Sore hari lelaki buta datang dengan makanan, minuman, dan pakaian bersih. Sukro sudah tak ditemukannya di bawah pohon trembesi.
”Aku di makam keramat,” seru Sukro, ”kemarilah!”
Lelaki buta itu mengetuk-ngetukkan tongkatnya, mencari jalan setapak ke kuburan tua, dan menemukan rumah papan makam keramat. Ia merasa lega, Sukro sudah bisa berjalan, meski terseret-seret. Tapi ia cemas bila pencuri ternak itu dimusuhi orang-orang kampung.
”Kukira kau tak perlu lagi menolongku,” kata Sukro, ”di sini banyak buah-buahan dan tanaman yang bisa kumakan setiap hari. Aku akan tinggal di kuburan tua ini. Kabarkan pada istri dan anakku, mereka tak perlu mencariku.”
***
Pelan-pelan lelaki buta itu melakukan perjalanan ke sudut desa, mencari rumah Sukro, dan menemukan rumah yang terpencil di bawah rumpun bambu itu kosong. Istri dan kedua anak Sukro sudah meninggalkan rumah. Lelaki buta itu tak mengerti, kapan rumah itu ditinggalkan. Ia hanya bisa merasakan kesunyian dan kekosongan di dalamnya. Ia bisa mencium aroma tungku perapian yang telah lama tak digunakan memasak. Ia tak mencoba mengetuk-ngetuk pintu rumah yang terkunci.
Ia menenteramkan hatinya sendiri. Ia tahu tetangga-tetangga Sukro memandanginya dengan tatapan curiga. Tapi ia tenang-tenang saja. Ia tetap dengan tongkatnya. Mencari jalan kembali ke rumah. Ia merasa telah selesai menolong Sukro, pencuri ternak yang teraniaya di bawah pohon trembesi dekat kuburan tua.
***
Sukro tak pernah meninggalkan makam keramat, kecuali subuh dini hari dan lepas maghrib lelaki setengah baya itu menyusuri jalan setapak ke sungai. Tertatih-tatih. Terpincang-pincang. Kaki kanannya terseret-seret. Sepanjang hari ia membersihkan makam. Berkebun di sekeliling kuburan tua. Ia memakan umbi dan buah-buahan dari kuburan itu. Terdapat pohon sirih menjalar subur di samping makam keramat. Ia senantiasa memetik dan mengunyah daun-daun sirih.
Sesekali memang peronda malam mengelilingi kuburan tua. Menyorotkan lampu senter ke makam keramat. Di situlah Sukro tidur. Makam keramat itu selama ini tak pernah dikunjungi orang. Kini banyak orang diam-diam mengintai curiga.
Meski belum seorang pun berani mendaki kuburan tua dan menjenguk Sukro ke dalam makam keramat, orang-orang yang lewat kadang sekilas memandangi makam keramat itu dengan curiga. Bila menyapukan pandangan ke kuburan tua, tatapan mereka penuh selidik, dendam, dan kebencian. Mereka tak pernah berani menatap kuburan dan makam keramat itu terlalu lama, takut bila Sukro diam-diam menebar ancaman pada keselamatan ternak-ternak mereka. Tubuh Sukro tak pernah mereka lihat dengan jelas. Hanya suara cangkul dan sabit yang terdengar. Kadang terlihat kepulan asap. Ia tengah membakar ubi dalam gemeretak ranting kering dan kayu bakar di sudut kuburan tua.
***
Masih pagi ketika Pak Lurah turun dari mobil mewah, bersama seorang cukong dari kota, yang licin kepalanya, berpandangan dingin di balik kacamatanya. Mereka memandangi kuburan tua yang bersih, tak lagi terlihat kesan angker, rimbun, dengan pepohonan liar. Makam keramat itu pun tampak bersih. Menjalar pohon sirih yang segar pada sebatang pohon jambu biji, dengan daun-daun hijau segar.
”Pabrikku akan didirikan dari daerah bekas bukit cadas hingga mencapai kuburan tua ini,” kata cukong itu. ”Perkara ganti rugi makam dan penggusuran kuburan, kuserahkan padamu.”
Lelaki setengah baya itu, lurah desa ini, mengerutkan kening. Mengisap rokok. Dan melihat kekayaan di balik bukit cadas dan kuburan tua yang bakal terjual untuk pabrik. Tapi ia segera berkerut. Di makam keramat itu tinggal Sukro. Sesaat ia tersenyum.
”Serahkan semua ini padaku. Ini bukan hal yang sulit,” Pak Lurah meyakinkan. ”Dalam seminggu, semua akan beres.”
Mereka kembali naik ke dalam mobil. Tak terlihat asap. Mobil itu pelan-pelan meninggalkan jalan berumput yang menghubungkan kuburan tua, bukit cadas yang rata dengan tanah, dan desa.
Dari balik celah papan makam keramat, sepasang mata Sukro memandangi gerak-gerik mereka dengan curiga. Meradang. Sepasang mata yang memendam rasa nyeri penganiayaan. Sepasang mata manusia yang bersembunyi dalam kekeramatan makam, kesunyian, dan alam kematian. Sepasang mata yang terkucil berbulan-bulan, dalam ancaman dan kecurigaan.
***
Kegaduhan itu terjadi di kuburan tua, menjelang dini hari. Obor-obor, senter berpancaran di gundukan tanah makam yang bersih, dikelilingi kebun. Wajah-wajah berkilatan. Menampakkan kebencian, kedengkian. Orang-orang berteriak, terus mendaki kuburan tua, ”Maling! Maling! Maling!”
Orang-orang susul-menyusul memburu maling ternak. Mereka garang membawa parang, sabit, pentungan, dan senter. Dari empat arah orang-orang desa memburu, mendaki kuburan tua. Kerumunan orang murka terhenti di dekat makam keramat. Sesosok tubuh lelaki berlumur darah tergeletak di sisi makam keramat, diinjak kaki Sukro, yang terus-menerus mengunyah sirih, dan diludahkan pada tubuh lelaki yang diinjaknya.
”Lelaki ini mencuri ternak kalian!” seru Sukro. ”Tanyakan padanya, siapa yang menyuruhnya mencuri sapi membawanya kemari!”
Tak jauh dari tubuh yang tergeletak, seekor sapi yang dicuri, sedang dipegang ujung talinya oleh seseorang. Dari gelap kuburan tua mendaki Pak Lurah, berseru, ”Tangkap Sukro! Hajar dia! Dialah malingnya!”
Berkacak pinggang, Sukro seperti menantang siapa pun yang mengepungnya. Tak seorang pun yang berani menangkapnya. Bulan sabit memucat, dan kelelawar-kelelawar hinggap di sela dahan trembesi, mencari tempat berlindung. Orang-orang tergeragap, serupa kelelawar-kelelawar yang memerlukan dahan untuk berlindung. Pak Lurah berseru garang, merenggut ujung tali pengikat sapi, dan membentak, ”Sukro inilah pencuri sapi. Tangkap dia!”
Ludah sirih yang disemburkan Sukro ke mata kiri sapi, cuah, memedihkan, dan mengejutkan binatang itu. Mata kiri sapi yang pedih, gelap, telah membangkitkan kemarahannya. Binatang itu menyeruduk Pak Lurah. Merobek lambung. Menginjak-injaknya. Tak terkendali. Mengamuk. Sapi itu memburu orang-orang di kuburan tua. Orang-orang berlari. Takut bila mereka terobek tanduk sapi.
***
Menjelang fajar lelaki muda pemijat mendaki jalan setapak kuburan tua. Ia telah mendengar kegaduhan semalam. Tubuh Pak Lurah yang berlumur darah baru saja diselamatkan orang-orang desa. Kini ketika kegaduhan itu reda, lelaki muda pemijat mencari-cari Sukro, dan tersenyum mendengar suara lelaki itu, ”Kemarilah! Rawat pencuri sapi ini dengan pijatanmu! Hentikan aliran darahnya dengan daun-daun sirih ini!”
Lelaki pencuri sapi itu tergeletak penuh luka dalam perkelahian dengan Sukro. Ia terluka parah setelah diinjak-injak sapi yang dicurinya sendiri. Lelaki setengah baya pencuri sapi itu mengerang kesakitan ketika lelaki buta memijat sekujur tubuhnya.
”Ini orang suruhan Pak Lurah yang mencuri sapi dan membawanya ke kuburan. Dia memfitnahku!” ujar Sukro sambil mengunyah daun sirih. ”Jangan kau benci dia. Rawatlah seperti kau merawatku dulu.”

Pandana Merdeka, Desember 2009



Komentar tentang cerpen “Pengunyah Sirih”
Masih menimbulkan tanda tanya mengapa tokoh Sukro mencuri sapi warga. Pada cerpen belum disebutkan sebab yang jelas. Cerpen “Pengunyah Sirih” menggambarkan kehidupan/realita yang ada di masyarakat. Dapat dilihat dari tokoh Pak Lurah yang menggambarkan beberapa cerminan pemimpin di negeri ini. Mereka lebih mementingkan keuntungan pribadi/golongan daripada keamanan untuk warganya. Selain itu, terlihat bahwa keadilan yang tidak memihak, seseorang yang bersalah memang harus dihukum. Namun cara yang mereka lakukan menurut saya salah karena tanpa mengetahui pokok permasalahannya para warga langsung main hakim sendiri. Sebagai Pak Lurah yang mengayomi warganya, seharusnya melihat seseorang yang diperlakukan tidak manusiawi harusnya melerai atau menashatinya bukan diam saja.

#INFOdanPengetahuan JUMPRIT


Apakah kalian tahu bahwa sejarah Jumprit merupakan bagian dari runtuhnya Kerajaan Majapahit💀😎

Jumprit boleh dikatakan sebagai bagian dari sejarah runtuhnya Majapahit. Karena dari catatan yang ada, nama Jumprit sendiri merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan salah satu penasehat Kertabumi (Raja Majapahit yang terakhir) yaitu Pangeran Singonegoro. 
Alkisah waktu itu, Kerajaan Islam Demak yang diperintah oleh Raden Patah terus melakukan perluasan daerah termasuk ke dalam wilayah Kerajaan Majapahit.. Ada yang tunduk dan ada yang tidak tunduk terhadap kepemimpinan baru di bawah Raden Patah. Salah satunya adalah Pangeran Singonegoro yang tidak tunduk, sehingga beliau akhirnya mengasingkan diri ke dataran tinggi di daerah Tegalrejo Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

Nama Jumprit sendiri berasal dari salah seorang penduduk Kulon Progo. Cerita singkatnya adalah ketika itu Ki Jumprit, salah seorang penduduk yang tinggal di tepi Kali Progo terkena penyakit kulit yang parah dan tidak bisa disembuhkan. Karena sudah merasa tidak ada yang bisa menyembuhkan penyakitnya maka Ki Jumprit berniat mengakhiri penderitaannya dengan bunuh diri. Pada saat itulah datang wangsit yang memerintahkan agar Ki Jumprit mandi di Sendang yang berdekatan dengan Makam Pangeran Singonegoro. Dan akhirnya setelah mandi di sendang tersebut, penyakit kulit yang diderita sembuh dan selanjutnya Ki Jumprit menjadi juru kunci di tempat tersebut sampai akhir hayatnya. Untuk menghormati keberadaan juru kunci tersebut maka dinamakanlah sendang tersebut dengan nama Jumprit sampai sekarang. Sendang tersebut memiliki legenda tersendiri, menurut Muchtasori pegawai perum perhutani yang menjadi pegawai disana, sumber mta air tersebut ditemukan oleh Pangeran Singonegoro seorang penganut agama Hindu Syiwa yang menjadi penasehat spiritual kerajaan Majapahit. Di penghujung rntuhnya kerajaan Majapahit Pangeran Singonogoro menyingkir bersama 20 kera yang menjadi pengawalnya. Dalam perjalanannya ia menemukan sendang atau sumber

mata air, kemudian ia bertapa disana. Dalam pertapaannya itu ia menjadi seorang Brahmana dan mendapat julukan Panembahan Ciptaning. Setelah meninggal dunia ia dikuburkan disana termasuk istrinya yang dianggap keturunan Tionghoa. Adapula cerita lain mengnai ikhwal keyakinan bahwa air sendang Jumprit dipercaya dapat menyembuhakan penyakit. Saat ini masih banyak orang yang datang ke Jumprit untuk kungkum atau membawa pulang airnya. Katanya air tersebut bisa menyembuhkan mereka dari penyakit. Selain itu ada juga yang memiliki keinginan bisa terwujud kalau berendam di sendang pada malam hari.
Hingga saat ini sendang Jumprit dijaga oleh 20 ekor kera, yang dipercaya sebagai Ki Dipo atau Hanoman Putih. Konon jumlah kera-kera itu tidak pernah berkurang ataupun bertambah. Kalau ada kelahiran baru, kera dewasa akan menyingkir dan menghilang. Binatang tu berkeliaran di pepohonan sekitarnya.
Untuk menuju ke tempat ini tidaklah terlalu sulit, karena hanya berjarak sekitar kurang lebih dua puluh enam kilometer dari Kota Temanggung arah Ngadirejo. Jalan menuju tempat ini dari Temanggung juga terbilang bagus, namun berkelok-kelok dan turun naik seperti pada umumnya kontur jalan pegunungan. Karena sejarahnya tersebut banyak orang yang berkunjung kesini untuk mendapatkan khasiat air sendang jumprit untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Namun diluar itu semua dengan segala kekurangannya tempat ini memang layak dikunjungi untuk sekedar menikmati suasana khas pegunungan atau melepas kepenatan selepas melakukan rutinitas sehari-hari. Puluhan monyet yang menurut sejarahnya adalah keturunan Ki Dipo juga bisa kita saksikan bergelantungan di pohon maupun yang bermain-main disekitar lokasi parkir mobil.
Berada diketinggian sekitar delapan ratus meter di atas permukaan air laut di salah satu sisi Gunung Sindoro menjadikan tempat ini sangat sejuk sekaligus berpadu dengan keindahan alam pegunungan. Namun minimnya sarana dan prasarana juga mempengaruhi minat wisatawan yang berkunjung kesini. Di seberang sendang Jumprit memang terdapat kolam renang namun dengan kondisi yang kurang terawat. Begitupun dengan lokasi MCK yang ada nampak sedikit kotor dan kurang terjaga kebersihannya. Rumah makan pun tidak tersedia, hanya ada beberapa penjual bakso disekitar sendang Jumprit. Keuntungan lain berkunjung kesini adalah selepas dari Jumprit perjalanan bisa dilanjutkan ke perkebunan Teh Tambi yang indah dan selanjutnya ke dataran tinggi Dieng karena tempat-tempat tersebut merupakan satu arah apabila ditempuh dari arah Jumprit.
Tak banyak orang mengenal eksotisme ala di wilayah perbukitan kota Temanggung. Tak banyak pula yang menaruh perhatian pada penggalan sejarah Jawa Kuno berwujud bangunan dan prasasti, tanda yang senang tiasa mengundang dialog masa lalu. Itulah gerbang utama yang menuju mbul Jumprit, mata air yang disucikan. Air umbul(sendang, mata air)adalah air keberkahan yang diambil para biksu dengan ritual khusus untuk digunakan dala upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur. Umbul yang tak pernah kering ini juga mengisi Sungai Progo.


Berikut adalah pemahaman saya tentang Jumprit. Jika ada yang keliru atau ada yang ditanyakan, kalian bisa berikan masukan atau pertanyaan di kolom komentar. Terima kasih
Senang bisa berbagi cerita 💃

Jumat, 17 November 2017

#OpiniKU Mahasiswa Kehilangan Identitas

Mahasiswa kini telah kehilangan identitasnya sebagai generasi penerus bangsa serta golongan intelektual yang berperan sebagai pemikir. Begitulah kira-kira gambaran yang melekat bagi mereka penyandang predikat mahasiswa. Image yang didapat oleh mahasiswa sangatlah hebat. Maha dalam kata mahasiswa sudah cukup pantas bila mereka berjalan sesuai dengan perannya. Kampus tempat mereka belajar tidak kalah hebat yang selalu diidentikkan dengan tempat komunitas perubahan. Mengapa demikian? Karena dalam catatan sejarah para mahasiswa terdahulu telah memenuhi perannya dengan cukup baik. Selain berperan sebagai  pemikir, mahasiswa juga berperan sebagai oposisi pemerintahan yang paling independen pada masa orde baru. Lantas sekarang?
Mahasiswa pada umumnya adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi. Dimana mereka belajar ilmu pengetahuan yang belum didapatkan pada jenjang sebelumnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat untuk bekal mereka pada kehidupan selanjutnya baik dunia maupun akhirat. Apakah tugas mahasiswa hanya sekedar menuasai materi perkuliahan? Tidak, menjadi mahasiswa tidak semudah itu. Justru semakin tinggi jenjang sekolah maka semakin berat kewajiban serta tanggung jawab yang dipikul. Tugas mahasiswa yang lainya berupa pemaknan mahasiswa itu sendiri sebagai agent of change. Mahasiswa diharapkan mampu mengupayakan perubahan kondisi sosial masyarakat ke arah yang jauh lebih sejahtera dari semula. Namun pada era sekarang mahasiswa seperti kehilangan identitasnya. Mari kita tengok kondisi mahasiswa saat ini, pada perkembangan teknologi yang semakin pesat, figur mahasiswa dalam dunianya membentuk perilaku yang konsumtif pada segala hal. Sikap ramah dan rasa sosial yang tinggi seharusnya tercermin pada diri mereka, namun itu semua mulai hilang dan menjadi individualis. Keadaan seperti ini membuat resah bangsa ini karena mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Bagaimana bangsa ini akan maju jika mahasiswa yang digadang-gadang sebagai generasi penerus bangsa kualitas yang dimiliki mahasiswa itu sendiri semakin menurun. Banyak penyandang gelar sarjana yang setelah lulus kuliah menjadi pengangguran dan lontang lantung tidak memiliki tujuan karena kurang memiliki skill. Lantas apa yang dilakukan selama menjadi mahasiswa? Jika berakhir seperti itu mereka mantan mahasiswa yang menganggur hanya menyia-nyiakan waktunya saja.
Namun tidak semua mahasiswa pada era ini memiliki sifat demikian. Beberapa mahasiswa sadar akan fungsi dan perannya  sebagai mahasiswa dan manusia. Dapat dilihat di daerah Jogjakarta terdapat beberapa komunitas sebagai wadah mahasiswa yang mengupayakan perubahan kondisi sosial menjadi lebih baik dan mengabdi pada manyarakat, diantaranya akademi berbagi yang mengadakan kelas gratis untuk mempelajari berbagai hal, Jogja menyala, saung mimpi, kmunitas book for mountain, dan masih banyak yang lainnya. Mereka mau peduli dan berbagoi ilmu kepada mereka yang membutuhkan.
Jika hanya beberapa saja mahasiswa yang sadar akan fungsi dan perannya. Maka hanya akan beberapa saja dari mahasiswa seluruh bangsa yang memiliki identitas seutuhnya menjadi mahasiswa. Beberapa saja dari mahasiswa yang dapat memajukan kehidupan bangsa. Lantas apa peran dari mahasiswa yang kurang memiliki kesadaran akan fungsi dan perannya? Apa mereka pantas disebut mahasiswa?
Bisa dikatakan bangsa ini sedang sakit. Lahirnya generasi penerus bangsa dengan kualitas sumber daya manusia yang baik adalah obat dari penawar rasa sakit bangsa ini. Jika kalian peduli terhadap bangsa ini, marilah kita lakukan perubahan dimulai dari introspeksi diri dan membenahi sikap sehingga dapat menjadi mahasiswa yang selayaknya mahasiswa.