Selasa, 21 November 2017

Analisis Drama


“SEPASANG MERPATI TUA”
Karya : Bakti Soemanto

1. Unsur Intrinsik
            a. Tema
Tema dari Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto yaitu keinginan atau harapan untuk mendapatkan kesejahteraan hidup. Hal ini dibuktikan dalam pernytaan tokoh:
Kakek  : “Seorang diplomat pada hakikatnya adalah seorang yang pandai ngomong. Pandai meyakinkan orang, pandai membujuk. Orang-orang di kolong jembatan itu perlu di bujuk agar hidup baik-baik. Berusaha mencari pekerjaan yang layak dan timbul kepercayaan diri-sendiri. Tidak sekedar di halau, di usir, kalau malau ada orang gede lewat saja. Jadi untuk mengatasi tindakan-tindakan kasar ini, perlu ada wakil yang bisa membujuk….”
Kakek  : “Bidang sampah-sampah! Ini perlu sekali, salah satu sebab adanya banjir di kota ini, karena orang-orang kurang tahu artinya selokan-selokan itu. Kau lihat jalan-jalan yang sering tergenang air itu. Coba selokan itu kita keduk, sampahnya luar biasa banyaknya…”
b. Tokoh dan penokohan
Tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu:
J Tokoh utamanya, yaitu Nenek. Ia adalah tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
J Tokoh Tambahannya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung.
J Tokoh protagonisnya, yaitu Nenek. Ia merupakan tokoh yang baik dan pembangun alur dalam  cerita.
J Tokoh antagonisnya, yaitu Kakek. Ia merupakan tokoh yang yang memberi konflik pada tema dan memiliki kehendak yang berlawanan dengan Nenek.
Penokohan dalam drama Sepasang Merpati Tua, yaitu:
J Nenek, seorang wanita yang baik, manja, pengkritik, cengeng, pemberani, gengsi, dan peduli. Kebaikannya ia tunjukan ketika ia mau mendengarkan kata-kata Kakek walaupun ia selalu tidak memahami arti dari kata-kata Kakek, tetapi ia pun mendukung si Kakek untuk memenuhi keinginannya dalam menciptakan kesejahteraan masyarakat disekelilingnya. Sikap manjanya ia tunjukan ketika ia berdiri menghampiri Kakek dan duduk disebelahnya. Sikap pengkritiknya ia tunjukan pada saat ia selalu menyela dan mengkritik segala ucapan Kakek. Sikap cengengnya ia tunjukan pada saat ia menangis karena tersinggung mendengar kata-kata Kakek yang mengatakan bahwa “Mengaku dosa didepan orang banyak”, serta menangis pada saat Nenek melihat Kakek rebah tak berdaya karena terlalu banyak bicara.
J Kakek, seorang lelaki yang baik, bijaksana, bergaya, pemalu, peduli, pemuji, pengkritik, percaya diri, dan semangat tingkat tinggi. Kebaikannya ia tunjukan dalam jiwanya  yang tertanam nilai-nilai kemanusiaan yang begitu kuat, ia ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengubah pola pikir serta konsep yang tidak mengutamakan masyarakat menjadi orang yang lebih baik. Kebijaksanaannya ia tunjukan ketika ia mau mendengarkan nasehat istrinya dengan penuh lapang dada dan dengan kebijaksanaanya pula ia menerima segala keluhan-keluhan istrinya.
c. Dialog
Nenek  : (Bicara sendiri). “Ah, dasar! Kayak nggak ingat sudah pikun. Pekerjaannya tidak    ada lain selain bersolek. Dikiranya masih ada gadis-gadis yang suka memandang. Hmmm…”(Mengambil cangkir, lalu meminumnya)
Kakek  : (Masuk). “Bagaimana kalau aku pakai kopiah seperti ini, Bu?”
Nenek  : “Astaga! Tuan rumah mau pesiar ke mana menjelang malam begini?”
Kakek  : “Tidak ke mana-mana. Cuma mau duduk-duduk saja, sambil baca Koran.”
Nenek  : “Mengapa membaca koran harus pakai kopyah segala?”
Kakek  : “Agar komplit, Bu”
...........
                        Kutipan di atas disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Kutipan teks drama di atas dapat disebut sebagai dialog karena diucapkan secara bergantian oleh tokoh Nenek dan Kakek.
d. Alur
Alur dari drama Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto adalah;
J Eksposisi (Pelukisan awal)
Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.
J Konflik
Kakek  : “Mengaku dosa di depan orang banyak!”
Nenek  : “Hu…hu…hu…” (Menangis)
 Kakek  : “He, ada apa kau, Bu? Ada apa? Digigit nyamuk rupanya?”
 Nenek  : “Kau memperolok-olok aku di depan orang banyak begini. Siapa aku ini? Istrimu bukan? Kalau aku dapat malu, kan kau juga ikut dapat malu toh. Hu…hu…hu…”
Kakek  : “Bukan maksudku memperolok-olok kau, Bu. Aku justru memuji tindakanmu yang berani.”
Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk pada tahap konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa Nenek merasa di ejek/di olok-olok oleh Kakek dengan kata-kata “Mengaku dosa di depan orang banyak”, hingga membuatnya menagis dengan kata-kata tersebut.
J Koplikasi (pertikaian)
Cerita perdebatan antara Nenek dan Kakek tentang jabatan yang ingin dicapai oleh Kakek. Dimulai dengan keinginan Kakek yang ingin menjadi profesor tetapi ditentang oleh Nenek yang lebih mengizinkan Kakek untuk menjadi diplomat dan Kakek pun menerima saran Nenek demi menyelamatkan perkawinan mereka. Dan ceritanya dilanjutkan dengan keinginan Kakek yang ingin pindah jabatan dari diplomat menjadi teknokrat.
J Klimaks (puncak ketegangan)
 Cerita mencapai puncaknya pada saat Kakek berbicara dengan penuh semangat hingga ia tidak dapat mengontrol bicaranya sendiri yang membuat penyakit napasnya kambuh kembali. Peringatan Nenek tidak didengarnya karena semangatnya tersebut. Karena semangatnya yang terlalu berlebihan, hingga membuatnya rebah dan membuat Nenek menjerit dan menangis.
J Peleraian
 Kakek  : “Bangkit tetapi tidak diketahui oleh Nenek). Mengapa kau menangisi aku, tangisilah dirimu sendiri.”
Nenek  : “Kau masih hidup…?”
Kakek  : “Aku tidak begitu yakin, selama aku terbelenggu oleh doktrin. Aku hanya mengerti, apa aku hidup atau tidak, kalau aku menghayati hidupku sendiri….”
Nenek  : “Tetapi kau berbicara, kau bernapas….”
Kakek  : “Bukan itu ukuran adanya kehidupan….”
 Cerita ini dileraikan dengan bangkitnya Kakek dari rebahnya dan penjelasan Kakek kepada Nenek tentang arti kehidupan yang sebenarnya.
J Penyelesaian
 Cerita ini diselesaikan dengan bunyinya lonceng jam dinding dua belas kali untuk yang kedua kalinya yang membuat Nenek heran, dan penjelasan lebih lanjut oleh Kakek tentang kehidupan bahwa kebiasaan, ukuran, dan konep tidak terlalu cocok untuk hidup manusia. Dan juga masih menyisahkan pertanyaan tentang bagaimana cara mengerti kahidupan. Cerita ini pun berakhir happy ending karena Kakek kembali tersadar dari perebahannya dan bersatu kembali dengan Nenek.
e. Latar/setting
 Latar dari drama Sepasang Merpati Tua, karya Bakti Soemanto ini terbagi tiga dua jenis, yaitu:
1) Latar tempat
J Ruangan tengah rumah, tempat Kakek dan Nenek duduk berbincang-bincang. “Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasang orang tua.”
J Sofa, tempat Kakek duduk membaca Koran dan tempat Nenek menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek.
Kakek    : (Berjalan menuju ke meja, mengambil Koran, lalu pergi ke sofa, membuka lembarannya)” dan pada kutipan
Nenek    : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan   kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
2) Latar waktu
 J Menjelang malam hari, waktu Kakek dan Nenek berbincang-bincang.
Waktu drama ini dimulai, Nenek duduk sambil menyulam. Sebentar-sebentar ia menengok   ke belakang, kalau-kalau suaminya datang. Saat itu hari menjelang malam.
 J Empat puluh tahun yang telah lampau, waktu Kakek menjadi juru tulis.
  J Delapan puluh tahun, waktu Nenek menjalani kehidupan.
 Nenek    : Delapan puluh tahun kujalani hidup. Benarkah aku belum mengerti.
 3) Latar suasana
 J Jengkel, perasaan Nenek kepada Kakek karena selalu bersolek dengan memakai kopiah ketika membaca koran.
J Romantis, suasana ketika Nenek duduk di samping Kakek sambil menyandarkan kepalanya ke bahu kakek sebelah kiri.
Nenek    : (Berdiri menghampiri Kakek, lalu duduk disebelahnya, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Kakek sebelah kiri).
 J Berdebat, sikap Nenek dan Kakek  yang memperdebatkan jabatan menjadi profesor, diplomat, dan teknokrat.
f. Amanat
Amanat dari drama Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto, yaitu:
Jika kita memiliki jabatan tertentu, maka manfaatkanlah jabatan tersebut dengan sebaik-baiknya demi kepentingan diri sendiri dan orang lain dan Hargailah tiap kehidupan yang diperoleh, karena kehidupan yang telah diperoleh sebelumnya tidak akan pernah kembali lagi.


2. Unsur Ekstrinsik
Nilai-nilai yang terkandung dalam drama Sepasang Merpati Tua karya Bakti Soemanto, yaitu:
  a. Nilai sosial budaya
                      Nilai sosial-budaya terletak pada niat Kakek yang ingin menjadi diplomat kolong jembatan untuk membantu orang-orang yang tinggal di kolong jembatan agar mau hidup baik-baik dengan berusaha untuk mencari pekerjaan yang layak dan menimbulkan kepercayaan diri sendiri. Juga dapat dilihat pada niat Kakek yang ingin menjadi Teknokrat di bidang persampahan demi mencegah terjadinya banjir.
            b. Nilai moral
                      Nilai moral teletak pada sikap Kakek yang bijaksana dalam menanggapi segala sikap Nenek terhadapnya. Juga pada sikap Kakek yang peduli terhadap sesama dengan memperhatikan kehidupan orang-orang yang hidup di kolong jembatan dan niat Kakek untuk membersihkan sampah-sampah demi mencegah terjadinya banjir yang dapat merugikan banyak orang. Serta, teletak pada sikap Nenek yang peduli terhadap Kakek dengan jabatan yang ingin diraihnya dan sikap pedulinya terhadap kondisi Kakek.
            c. Nilai agama
                      Nilai agama terletak pada perkataan Nenek dengan membawa nama Tuhan dalam menentukan jenis diplomat yang harus diambil oleh Kakek. Serta terletak pada niat Kakek yang ingin membersihkan sampah-sampah yang menumpuk di selokan, sebab dalam agama menyatakan bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”.
            d. Nilai ekonomi
                        Nilai ekonomi terletak pada kehidupan Kakek dan Nenek yang hidup sederhana dengan menikmati hidangan apa adanya, serta dengan perabotan rumah yang mulai lusuh. “Panggung menggambarkan sebuah ruangan tengah rumah sepasa
ng orang tua. Di atas sebelah kiri ada meja makan kecil dengan dua buah kursi. Di atas meja ada teko, sepasang cangkir, dan stoples berisi panganan. Agak tengah ruangan itu terdapat sofa, lusuh warna gairahnya. Di belakang terdapat pintu dan jendela.”

2 komentar:

  1. Makasih buat bantuannya,blognya sangat membantu dalam pengerjaaan :3

    BalasHapus
  2. How to get to the Harrah's casino and get to the
    Directions 남양주 출장샵 to Harrah's Casino and you 익산 출장마사지 can take advantage of a variety of welcome bonuses 안산 출장안마 and promotions offered by 경산 출장샵 Harrah's Casino and enjoy 익산 출장샵 the casino's

    BalasHapus